Panggilan Perutusan Minggu 7 July 2013
10 Bersukacitalah
bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah
karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah
bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung
karenanya! 11 supaya kamu mengisap dan
menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati
dari dadanya yang bernas.12 Sebab
beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya
keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu
akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan.13 Seperti seseorang
yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur
kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem.14 Apabila kamu melihatnya, hatimu
akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh
dengan lebat; maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya,
14 Tetapi aku sekali-kali tidak
mau bermegah, selain dalam salib
Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah
disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.15 Sebab bersunat atau tidak
bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan
baru, itulah yang ada artinya.16
Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah
kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka
dan atas Israel milik Allah.17
Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan
aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda
milik Yesus.18 Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara2! Amin.
1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat
yang hendak dikunjungi-Nya.2 Kata-Nya kepada mereka:
"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada
Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian
itu.3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus
kamu seperti anak domba ke tengah-tengah
serigala.4 Janganlah membawa pundi-pundi
atau bekal atau kasut,
dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.5
Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.6 Dan
jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu
akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.7
Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang
kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah
berpindah-pindah rumah.8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota
dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang
dihidangkan kepadamu,9 dan sembuhkanlah
orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.10 Tetapi
jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak
diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan
raya kota itu dan serukanlah: 11
Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami
kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan
Allah sudah dekat.12
Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom
akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu." 17
Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."18
Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis
jatuh seperti kilat dari langit.19
Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking
dan kuasa untuk menahan
kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan
kamu.20 Namun demikian janganlah bersukacita
karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."
Pembahasan
Yes 66: 10-14c Bersukacitalah
dan bersorak2lah menikmati berkat Tuhan
Sukacita merupakan kebutuhan yg sangat
mendasar dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Karena suatu sebab,Tuhan mengusir manusia ciptaanNya itu keluar dari taman Eden, taman yg penuh sukacita
itu. Melalui berbagai peristiwa, penghukuman itu juga adalah pembuktian bahwa Tuhan Allah lebih berkuasa
atas bangsa itu sekaligus mengasihi bangsa itu juga. Masa pembuangan itu dijalani bangsa Israel dan akhirnya mereka
memohon ampun kepada Tuhan Allah atas dosa2 mereka. Dengan
kembalinya mereka ke Yerusalem maka bersukacitalah hati mereka. Kondisi ini
sama seperti nanti saat mereka menerima kembali surga /taman Eden dalam
kehidupan penuh damai sejahtera.Masa ketika Tuhan memberikan kebebasan itu
tentunya menjadi sukacita yg besar bagi bangsa Israel. Tentunya pernyataan itu
menunjukkan entitas manusia yang percaya kepada Allah. Tuhan mengalirkan keselamatan seperti sungai,
kekayaan seperti batang air yang membanjir dan Allah akan senantiasa mengasihi
kita seperti kasih seorang ibu yg tanpa henti. Apa yg kita alami pada saat ini
tentunya menjadi pertanyaan besar bagi kita, sebab bgmpun kemampuan manusia
untuk berpikir, manusia tidak akan mampu mengukur seluruh berkat yg
diterimanya. Kasih Tuhan itu bukan hanya sebagai Tuhan yg memberikan hukuman
bagi manusia, namun kasihNya itu begitu lemah lembut, seperti kasih seorang ibu
bagi anak2nya, dan juga kasih ibu bagi keluarganya. Kasih Allah yang
lemah lembut ini memangku dan memberikan kita kehidupan. Ibu yg dimaksud disini
ialah Allah sendiri melalui berkat dan kasihNya yg tidak terbatas bagi kita
anak2Nya. Namun penghiburan untuk menenangkan hati itu sering
dicari manusia jauh dari pangkuan Kasih Tuhan, manusia mencariNya dengan
bermain dengan menaruhkan sesuatu, dah bahkan mensugestikan dirinya sendiri
dengan minuman sampai mabuk. Penghiburan sejati hanya ada dalam Tuhan,terbukti
nyata sebab hanya Dia yang berkuasa atas segala masalah dan juga penderitaan
yang dihadapi manusia. Kasih Tuhan tentunya memberikan ketenangan dan sukacita
bagi kita umatNya dengan satu ketentuan yakni “Kita Betah dalam Pangkuan Kasih
Tuhan ” dengan demikian kita akan beroleh sukacita senantiasa dalam hidup kita.
Gal 6:14-18
Tidak bermegah artinya rendah hati,
selain dari salib disini berarti penderitaan Yesus di atas salib, dunia
disalibkan artinya dunia diebus dan Paulus bagi dunia karena hidupnya
diserahkan pada Tuhan (sehingga karya Petrus kalah, 2/3 isi Injil didominasi
oleh Paulus). Kondisi bersunat adalah sifat dahulu saat pertama kali perjanjian
dg Tuhan (Abraham menerima Ismail 8 hari, namanya berubah),yakni dinyatakan
kudus dan kaum terpilih), Paulus menyebutkan tdk bersunat artinya tdk ada
batasan, karena yang sunguh berarti adalah menjadi ciptaan baru.
Ciptaan Baru berarti memiliki penderitaan
Yesus karna kebenaranNya sampai tersalibkan, hidup kudus dimata Tuhan, bukan
batasan tradisi, dengan inilah damai sejahtera dan rahmat akan turun dan kita
diberkati sbg milik pusaka Tuhan/ anak Allah. Selanjutnya Paulus merasa ada
sekelompok org yang sungguh menyusahkan dirinya, seperti kaum Farisi, kaum yg
berkuasa scr otoritas, kaum yg memegahkan diri dg kesombongan
rohaniah/jasmaniah, karena menurutnya ini yg menghalangi turunnya damai
sejahtera dalam diri mereka, dan dalam tubuhnya yg sangat lemah itu ada tanda2 (akibat deraan saat di penjara). Perikop ini
ditutup dg pemberian berkat “Kasih Karunia”, bukan utk jasmaniah tapi rohani
(karna Injil merupakan bahasan roh).
Pewartaan dan perutusan mewartakan misi kebenaran Allah hanya
kita temukan dalam Lukas 10:1, misi perutusan dan panggilan itu bersumber dari
Yesus sendiri: ”
Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain,
lalu mengutus mereka berdua-dua
mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya” Tujuh puluh menunjukkan kelengkapan yang sempurna, batas umur
manusia, masa pembuangan mereka ke Babel. Berdua karena saling menguatkan dan
mendahului memperlihatkan Kabar sukacita itu harus diberitakan oleh orang lain
bukan DiriNya sendiri, bergema dan meresap dalam hati mereka kala Yesus sendiri
datang pada mereka.
Sebagai orang utusanNya, Yesus menegaskan kepada pada murid, rahmat yang diberikan sudah cukup. Ia berpesan, dalam menjalankan misinya tidak usah repot 2 dgn membawa pundi-pundi (kantong harta) atau bekal (makanan) atau kasut (perlindungan kaki/ langkah/tuntunan karena Yoh 14:6), dan janganlah memberi salam (berkat) kepada siapapun selama dalam perjalanan. Penegasan Yesus kepada murid-Nya dalam persiapan misinya ini bukan karena barang2 itu tidak perlu, melainkan kalau para murid disibukkan dengan uang, pakaian, dan barang lain maka perhatiannya tidak pada pelayanan dan misi tetapi pada apa yang melekat pada dirinya, larangan dimaksudkan mendesaknya memberitakan Injil. Selain menganjurkan menjalani hidup seorang utusan yang berpikir mana yang perlu, mana yang penting dan mendesak untuk karya misi, Yesus menegaskan, dalam bermisi harus menyatu dalam kehidupan umat. Keterbukaan umat dan kebersamaan dengan mereka adalah sarana yg sangat efektif untuk memperkenalkan kehendak Allah. Maka, tinggal di rumah di mana para murid diterima adalah penegasan Yesus kepada mereka. Tinggal bersama mereka berarti menyatu dalam kebudayaan dan situasi masyarakat setempat. Melalui kebudayaan setempat, seorang misionaris dan utusan Yesus dituntut memasukkan nilai2 Kristiani dalam situasi masyarakat tersebut.
Bagi Yesus, menjadi utusan-Nya dan bermisi di suatu tata masyarakat juga harus siap menghadapi dialog, konflik, dan perbedaan pandangan. Prinsip dasar dari karya perutusanNya ialah tidak boleh memaksakan kehendak kepada suatu tata masyarakat tertentu. Ketika karya misi tidak mungkin berkembang, maka pergilah dari situ dan kebaskanlah debu dari kakimu. Artinya, kita tidak bisa mengorbankan nilai2 Kerohanian Kerajaan Allah supaya kita bisa diterima. Misi kepada bangsa2 menuntut konsistensi nilai2 kehendak Allah tetap dipertahankan agar Gereja tidak jatuh pada ”memaafkan” dan mudah menerima nilai2 yg berbeda dari prinsip/keinginan Yesus+Bapa+Roh Kudus.
Panggilan perutusan yang diberikan Yesus kepada para murid tidak hanya berhenti pada peristiwa masa lalu ketika murid pertama diutus. Panggilan itu tetap dan berlaku untuk setiap orang beriman kepada Yesus, terlebih karena persembahan dirinya untuk para terpanggil secara khusus (imam, biarawan, dan biarawati). Berkat pembaptisan, setiap dari kita tidak hanya dikuduskan, melainkan dipilih dan diutus mengobarkan budaya kebenaran dalam semangat kenabian, untuk mewujudkan kekudusan hidup dalam semangat imamat dan membangun persekutuan sebagai citra Allah dalam semangat rajawi.
Tuntutan zaman ini membutuhkan para murid Yesus yang setia pada Sabda Allah yang terwujud dalam hidup yang konkret. Umat membutuhkan seseorang yg bisa diteladani dan dicontoh, bukan hanya yg pandai dan pintar bicara. Ketika dunia berlomba-lomba untuk menumpuk kekayaan, tentunya para imam dan religius memberikan teladan bagaimana harta benda digunakan untuk berbuat kasih dan menolong. Ketika orang berlomba-lomba mencari hidup yang hedonis dan nyaman, para murid Yesus harus berani menjadi pribadi yang siap berjerih payah.Tidak memikirkan makanan, pakaian, uang, dan fasilitas, kiranya merupakan cara terbaik untuk mengobarkan kembali daya kekuatan Roh yang telah diterimakan dalam tahbisan maupun kaulnya.
Ketika kita dengan tulus dan gembira melayani perutusan-Nya, Tuhan akan menambahkan apa yang kita butuhkan. Kalau kita mencari kesibukan hanya untuk memenuhi keinginan ego kita, rahmat Tuhan malah akan semakin jauh dari diri dan perutusan kita.
Sebagai orang utusanNya, Yesus menegaskan kepada pada murid, rahmat yang diberikan sudah cukup. Ia berpesan, dalam menjalankan misinya tidak usah repot 2 dgn membawa pundi-pundi (kantong harta) atau bekal (makanan) atau kasut (perlindungan kaki/ langkah/tuntunan karena Yoh 14:6), dan janganlah memberi salam (berkat) kepada siapapun selama dalam perjalanan. Penegasan Yesus kepada murid-Nya dalam persiapan misinya ini bukan karena barang2 itu tidak perlu, melainkan kalau para murid disibukkan dengan uang, pakaian, dan barang lain maka perhatiannya tidak pada pelayanan dan misi tetapi pada apa yang melekat pada dirinya, larangan dimaksudkan mendesaknya memberitakan Injil. Selain menganjurkan menjalani hidup seorang utusan yang berpikir mana yang perlu, mana yang penting dan mendesak untuk karya misi, Yesus menegaskan, dalam bermisi harus menyatu dalam kehidupan umat. Keterbukaan umat dan kebersamaan dengan mereka adalah sarana yg sangat efektif untuk memperkenalkan kehendak Allah. Maka, tinggal di rumah di mana para murid diterima adalah penegasan Yesus kepada mereka. Tinggal bersama mereka berarti menyatu dalam kebudayaan dan situasi masyarakat setempat. Melalui kebudayaan setempat, seorang misionaris dan utusan Yesus dituntut memasukkan nilai2 Kristiani dalam situasi masyarakat tersebut.
Bagi Yesus, menjadi utusan-Nya dan bermisi di suatu tata masyarakat juga harus siap menghadapi dialog, konflik, dan perbedaan pandangan. Prinsip dasar dari karya perutusanNya ialah tidak boleh memaksakan kehendak kepada suatu tata masyarakat tertentu. Ketika karya misi tidak mungkin berkembang, maka pergilah dari situ dan kebaskanlah debu dari kakimu. Artinya, kita tidak bisa mengorbankan nilai2 Kerohanian Kerajaan Allah supaya kita bisa diterima. Misi kepada bangsa2 menuntut konsistensi nilai2 kehendak Allah tetap dipertahankan agar Gereja tidak jatuh pada ”memaafkan” dan mudah menerima nilai2 yg berbeda dari prinsip/keinginan Yesus+Bapa+Roh Kudus.
Panggilan perutusan yang diberikan Yesus kepada para murid tidak hanya berhenti pada peristiwa masa lalu ketika murid pertama diutus. Panggilan itu tetap dan berlaku untuk setiap orang beriman kepada Yesus, terlebih karena persembahan dirinya untuk para terpanggil secara khusus (imam, biarawan, dan biarawati). Berkat pembaptisan, setiap dari kita tidak hanya dikuduskan, melainkan dipilih dan diutus mengobarkan budaya kebenaran dalam semangat kenabian, untuk mewujudkan kekudusan hidup dalam semangat imamat dan membangun persekutuan sebagai citra Allah dalam semangat rajawi.
Tuntutan zaman ini membutuhkan para murid Yesus yang setia pada Sabda Allah yang terwujud dalam hidup yang konkret. Umat membutuhkan seseorang yg bisa diteladani dan dicontoh, bukan hanya yg pandai dan pintar bicara. Ketika dunia berlomba-lomba untuk menumpuk kekayaan, tentunya para imam dan religius memberikan teladan bagaimana harta benda digunakan untuk berbuat kasih dan menolong. Ketika orang berlomba-lomba mencari hidup yang hedonis dan nyaman, para murid Yesus harus berani menjadi pribadi yang siap berjerih payah.Tidak memikirkan makanan, pakaian, uang, dan fasilitas, kiranya merupakan cara terbaik untuk mengobarkan kembali daya kekuatan Roh yang telah diterimakan dalam tahbisan maupun kaulnya.
Ketika kita dengan tulus dan gembira melayani perutusan-Nya, Tuhan akan menambahkan apa yang kita butuhkan. Kalau kita mencari kesibukan hanya untuk memenuhi keinginan ego kita, rahmat Tuhan malah akan semakin jauh dari diri dan perutusan kita.
Dari
ke 3 bacaan saya belajar:
1.
Bersukacitalah
atas karunia Tuhan karena kebaikanNya.
2.
Kondisi manusia
hasil didikan Yesus yakni yg menghasilkan buah roh (9 bh , Gal 5:22-23) akan
dialami jika kita menjadi ciptaan Baru.
3.
Ciptaan baru
menjadikan ukuran dalam misi, artinya menghasilkan buah roh, tindakan, ucapan,
nasib yang penuh berkat dalam Kasih Yesus.
4.
Menjadi utusanNya
bukan menjadikan kita bersenang2, tapi kita pasti mengalami
penolakan bahkan serangan seperti dalam domba (murid Yesus) kawanan serigala (menyalak/membantah /org
fasik dll) artinya bukanlah tugas yg mudah.
5.
Kala kita
memasuki sebuah masyarakat /rumah/keluarga berilah berkat dahulu, selalu
berkat, kala berkat/ salam itu ditolak lakukan spt yg diperintahkanNya :
kebaskan debu dan tinggalkan org/ masyarakat/ keluarga itu.
6.
Kala mengebaskan
debu mengartikan bahwa dosa kota Sodom (yg besar/yg tidak bisa dimaafkan) tidak
berbeda dg kota/keluarga /masyarakat itu dan Tuhan akan mengingatNya, dan
memusnahkanNya suatu saat spt Sodom dan Gomorah.
7.
Iblis jatuh
artinya datang ke dunia secepat kilat dan merebak dengan cepat
8.
Orang yg belum
kenal Yesus banyak (tuaian), itulah tugas kita, bukan hamba/abdi Tuhan, dan tugas
kita jua minta rahmat Tuhan sendiri (Bapa + Roh Kusus) utk melimpahi kuasaNya/
beritaNya/ keselamatanNya/ janjiNya masuk dalam Surga/kebahagiaan abadi.
9.
Syarat jadi
utusan tdk boleh bawa uang, makanan dan beri berkat yg sia2 pada
orang yang salah (tdk terima ajaran Yesus).
10.
70 artinya
kelengkapan sempurna bagi manusia dan Tuhan/ batas umur manusia/masa pembuangan
di Babel.
11.
Menjadi utusan
/misionaris adalah tugas semua org yang percaya pada Yesus dan pergi ke seluruh
dunia. Dulu Amerika adalah bangsa yg mengirimkan para misionaris ke daerah
jajahannya, sehingga jadi bangsa superpower, kini mereka meredup karena tdk ada
lagi orang spt itu kini. Daerah Semarang telah dipelopori oleh seorang hamba
Tuhan dengan istilah karpet merah.
12.
Sikap kerendahhatian harus selalu dijaga, karena dari sikap
inilah kasih Karunia Tuhan akan terwujud, bukan kesombongan.
13.
Dalam ikut Yesus
kehidupan kita pasti berubah (nyata),
dan pengalaman bersama Yesus (murid/kita) kita mempraktekkan keyakinan Yesus
ternyata manjur bahkan iblis(ular) tunduk pada mereka dan orang lain akan
melihat kesempurnaan Kuasa Yesus.
14.
Damai sejahtera
didapat dari pelepasan kutuk /pemulihan tidak ada cara lain.
15.
Rasa damai
sejahtera itu memberi kekuatan mengobarkan hati murid/hamba/abdi Tuhan dalam
berkarya memberitakan Injil.
16.
Kegentaran hati
manusia dimusnahkan dg kekuatan perkataan Yesus yg penuh KUASA (Luk 10:19).
17.
Kegembiraan
pelayanan kita memberitakan Injil bukan ukuran berhasilnya misi tapi yang lebih
utama adalah nama kita terdaftar di Surga dalam kitab Kehidupan.
18.
Kondisi bersunat
/ tanda perjanjian / kesucian hati (Ul 10:16; 30:6)/ Kesucian percakapan (Kel
6:11)/ Kesediaan untuk mendengar dan mentaati (Yer 6:10)/ Kasih karunia secara
rohani (Rom 2:29)/ diharuskan supaya dapat menikmati hak-hak dari jemaat Yahudi
(Kel 12:48; Yeh 44:7) bukan ukuran dalam bermisi memberitakan Injil tapi jadi
ciptaan Baru, ini baru berarti.
19.
Pekerja pastilah
kita mendapat upah, baik di bumi maupun di surga nanti, tapi bukan karena upah
ini kita melayani.
20.
Selama melayani
langsungkan kehidupan biasa (makan dll), menerima apa yg mereka sediakan dan
sembuhkan para penderita sakit (hukuman dosa) serta memberitakan Kerajaan Tuhan
itu ada dalam kehidupan mereka (tidak jauh).
21.
Kembalinya 70
murid dari misi artinya pelindungan/ keselamatan/ kuasa/ kesempurnaan Karya
Kasih Karunia Yesus adalah besar artiNya dalam perjalanan mereka, dan ternyata
semua berhasil, artinya apa yg ditanggungkan bagi kita utk memberitakan Injil
pasti dipenuhi oleh Kuasa dan kasih karunia Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar