Sabtu, 11 April 2015

                  Arti Paskah bagi Kita                 Minggu 5 April 2015
Kis 10:34,37-43
34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. 37 Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,38 yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.39 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib.40 Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yg ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri,41 bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.42 Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. 43 Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya."
Kol 3:1-4
1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.
Yoh 20:1-9
1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.9 Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.
Pembahasan:
Kis 10:34a,37-43 Kerja Allah menghancurkan tradisi manusia & menerobos tembok status quo. 
Narasi Lukas, kisah ttg perluasan Injil ke seluruh Yudea melalui pelayanan Petrus. Terakhir dalam Kis 8:25, ketika ia bersama dg Yohanes kembali ke Yerusalem dari Samaria. Sekarang diceritakan bahwa Petrus telah terlibat di dalam perjalanan pelayanan di seluruh Yudea, berkhotbah kpd org2 Kristen yg telah terserak di berbagai kota. Ini catatan lengkap ttg pelayanan Petrus. Di Lida dia menjumpai sekelompok orang Kristen yg mungkin telah lari ke sana pada masa perserakan yang disebabkan oleh penganiayaan di Yerusalem. Filipus sudah memberitakan Injil di wilayah ini (Kis 8:40). Di sini Petrus menyembuhkan Eneas yg lumpuh. Sampai sejauh ini, para rasul tidak menunjukkan tanda2 adanya maksud untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, tapi tetap tinggal di Yerusalem sambil bersaksi kpd org2 Yahudi. Lukas lalu mengisahkan permulaan dari perluasan gereja ke seluruh Yudea dan Samaria, yg disebabkan oleh penganiayaan Stefanus. Bukan krn visi dan rencana gereja, tetapi krn tindakan pengaturan Allah dalam menyerakkan org2 percaya. Dalam penganiayaan ini, Lukas mengisahkan bgm Stefanus menonjol di antara tujuh diaken yang ada. Inilah babak pertumbuhan Kekristenan. Bertumbuh ternyata tidak mudah. Salah satu problem pertumbuhan seseorg ialah bgm ia harus meninggalkan rumah/ menerobos tembok status quo. Org tidak bisa tinggal dan mengurung diri hanya di dalam kehidupannya untuk selama-lamanya, atau spt katak di dalam tempurung. Tinggal di dalam rumah lalu beranggapan di luar rumah sama sekali tidak ada kehidupan. Seseorang harus berani meninggalkan rumah spt burung yang berani meninggalkan sarangnya, tetapi harus kembali lagi ke sarangnya.Kekristenan lahir di dalam rumah Yahudi. Kristen harus mengakui sebuah kenyataan bahwa ia sangat berhutang kpd rumah atau tradisi Yahudi. Di sana ia belajar ttg moral dan keagungan Allah, belajar ttg Taurat dan kebenaran dan nilai2 kehidupan lain yg sangat dalam, kaya, sarat, dan padat. Tetapi ia harus berani meninggalkan tradisi Yahudi itu. Dampak Kasih Yesus tidak bisa dibatasi dan dikurung dalam rumah Yahudi. Upaya utk menerobos tembok status quo itu harus dilaksanakan. Bagi org Yahudi, bergaul dg orang non-Yahudi merupakan pantangan (haram hukumnya). Petrus menghancurkan hukum yg selama ini berlaku. Namun, Petrus melakukan semua itu krn Allah(= terjemahan mimpi Petrus). Allahlah yg menghancurkan dua tradisi manusia yg saling bertolak belakang: Kornelius (seorg kafir) menyembah Petrus, dan keputusannya (Yahudi) datang ke rumah Kornelius (setelah mimpi dihadapkan makanan haram 3x). Di dalam Tuhan hub sesama manusia tidak ada penghalang. Dengan kata lain, tradisi yg bertentangan dg prinsip Allah haruslah dihapuskan dan diganti dg kebenaran Firman Tuhan. Dalam pertemuan itu, Petrus menyampaikan fakta2 kebenaran Ilahi. Pertama sikap Allah thdp manusia tidak bergantung pada syarat lahiriah spt: penampilan, ras, kebangsaan / tingkat sosial ttn (Kis 10:34-35). Allah tidak peduli thdp perbedaan suku bangsa. Kornelius tidak perlu menjadi org Yahudi untuk memperoleh keselamatan, krn itu ada dalam Yesus (Kis10:43). Kedua, Petrus menyatakan kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus yg juga merupakan inti dari Injil bagi semua bangsa. Firman ini membawa Kornelius dan keluarganya menjadi percaya dan bertobat. Ini merupakan proses pendamaian. Sikap rasialis menghasilkan ketidakadilan, pertikaian, bahkan peperangan. Orang Yahudi pernah mengalami penderitaan dahsyat karena perlakuan rasialis dari bangsa Jerman. Namun banyak orang Yahudi pada masa PB pun bersikap rasialis. Mereka merasa satu-satunya umat Allah yang berhak atas semua janji-Nya. Bangsa2 lain tak lebih daripada binatang yg tak layak mendapat anugerah Allah.Sikap rasis umat Yahudi disebabkan kekeliruan mereka memahami konsep umat pilihan. Bagi mereka, umat pilihan adalah semata-mata hak istimewa. Mereka lupa panggilan istimewa adalah untuk tugas/kewajiban mulia, membawa bangsa2 lain kepada Allah. Khotbah Petrus kepada Kornelius dg tegas menyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Allah berkenan atas setiap orang dari bangsa manapun yg datang dg tulus mencariNya termasuk Kornelius yg adalah seorang kafir. Petrus, sbg seorg Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis dan menerima Kornelius, seorg kafir sbg sesama manusia yg dikasihi Allah (Kis 10:34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (Kis 10:42). Merenungkan ini apa respons kita, yang pada dasarnya bukan orang Yahudi melainkan sama seperti Kornelius yang termasuk dalam bilangan bangsa kafir? Rahasia perkenanan Allah atas semua orang ini terletak pada diri Yesus (Kis 10:36-38). Karya keselamatan Yesus di dunia untuk membuat org berkenan kpd Allah. Melalui kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus telah menyediakan jalan keselamatan untuk semua orang yg percaya padaNya, semua bangsa.Kristiani tidak ditentukan oleh makanan dan minuman yg halal / haram. Tetapi identitas Kristiani ditentukan oleh Yesus sbg Tuhan dan Juruslamat. Dg perkataan lain, orang Kristen tidak boleh terperangkap dalam formalisme atau legalisme agama. Tetapi jiwa Kristiani ditemukan dalam diri Yesus di dalam peristiwa inkarnasi. Tuhan meninggalkan kesetaraannya dg Allah dan menjadi manusia serta menyesuaikan diri dg manusia, bahkan rela sampai mati di kayu salib. Kita patut bersyukur karena hanya oleh karya Kristuslah kita bisa datang kepada Allah dan layak disebut sebagai umat-Nya. Tugas kita sekarang adalah memberitakan anugerah itu kepada semua orang lintas ras, suku, bangsa, dan bahasa, juga status sosial.
Kol 3:1-4 Pemujaan diri sendiri.
Orang Kristiani bukan hanya telah mati, tetapi juga telah dibangkitkan bersama dg Kristus. Di dalam eksistensinya yg sejati kita tinggal "bersama-sama dg Dia di surga" (Ef 2:6). Zaman lama masih nyata di dalam diri org Kristiani - dia masih berbuat dosa, sakit & akhirnya meninggal; zaman baru tetap masih tersembunyi, baru dinyatakan di dalam tubuh sang Juruselamat saja. Pada tahun 30 M, eksistensi zaman lamanya meninggal, disalibkan bersama dg Yesus ( 2 Kor 5:14; Gal 2:20). Kenyataan ini mengharuskan org Kristiani untuk carilah (di dalam perangkat kehendaknya) dan  pikirkanlah (phroneite, di dalam perangkat pikirannya) kenyataan zaman baru di atas (Rm 12:1,2). "Di atas" dan "di bawah" (/ di bumi) dalam tulisan2 Paulus dan Yohanes tidak khusus menunjukkan perbedaan ruang, sekalipun modus ungkapan ini tentu tercakup dalam acuan kpd Kristus dan kpd surga. Istilah2 ini menunjukkan perbedaan penting dalam hubungan temporal (zaman lama dan zaman baru). Di dalam tahun 30 M zaman baru menerobos masuk ke dalam sejarah melalui kebangkitan Kristus. Tetapi Yesus, yg di dalam diriNya zaman baru itu sekarang berada, ada di atas, sedangkan dunia tetap tercengkeram maut zaman lama. Org2 Kristiani saat ini berada di "atas," yaitu, dalam zaman baru, hanya "di dalam Kristus" dan melalui tinggalnya Roh Kudus di dalam dirinya. Tetapi eksistensi bersama dalam Kristus juga berlaku bagi eksistensi pribadi mereka. Kewargaan seorg Kristen adalah di "Yerusalem surgawi" (Gal 4:26), dan hal ini mengharuskan dia untuk terus mengubah pikiran dan kehendaknya shg sesuai dg kenyataan tsb. Ketaatan kepada ritual, upacara / "kekuatan penengah" dari zaman lama merup suatu penyangkalan thdp kehidupan yg sudah dibangkitkan bersama Yesus. Para penganut gaya hidup asketis berpandangan bahwa tubuh ini jahat, maka untuk menyucikannya perlu penyangkalan diri thdp hawa nafsu, penolakan thdp selera makan, dan menekan seminimal mungkin segala keinginan termasuk keinginan yg berkaitan dengan seks. Sepintas nampaknya gaya hidup ini sangat bijaksana, namun sesungguhnya mereka sedang melakukan ibadah yg berpusat pada pemujaan diri sendiri. Ibadah semacam ini mengarah kepada kesombongan rohani karena menilai diri lebih suci daripada yang lain. Paulus mendorong jemaat Kolose untuk meninggalkan kehidupan asketis, karena kekristenan bukan resep hidup /daftar peraturan menuju kesempurnaan dan kesucian hidup, tetapi relasi hidup dg Kristus (Kol 3:20). Kristiani bukan berjuang sendiri melawan dan meminimalkan hawa nafsu, tetapi mengendalikan seluruh keberadaan tubuh bersama Kristus, shg perubahan yg dialami bukan paksaan diri melainkan secara alami mengalami pembentukan Roh Kudus yang bekerja di dalam ketaatannya kepada kehendak-Nya. Peraturan yang ditetapkan (Kol 3:21) adalah buatan manusia belaka yg dibuat seolah-olah merupakan ibadah kpd Tuhan, namun sesungguhnya bertujuan memuaskan diri sendiri (Kol 3:22-23). Pengendalian diri semacam ini justru akan menyebabkan kemunduran rohani, krn lebih mementingkan legalitas daripada loyalitas. Bagaimanakah hidup yang merupakan ibadah sejati kepada Tuhan? Fokuskan hidup kpd Yesus, gantikan posisi “aku” dalam takhta kehidupan dg Yesus (Kol 3:1-4), maka bukan lagi perkara dunia dan segala kenikmatan semunya yang menjadi tujuan akhir hidup kita, melainkan bagaimana hidup mempertuhankan Kristus setiap hari. Perubahan hidup ini memang tidak otomatis tetapi penggantian posisi “aku” kepada Kristus harus radikal, dengan demikian fokus hidup kita menjadi jelas dan kita mengarahkan hidup kita secara pasti.
Yoh 20:1-9 Percaya akan BangitNya Yesus
Hari sesudah hari Sabat, ketika sesudah penyaliban Yesus, menurut cara perhitungan Yahudi. Kebangkitan Yesus pada hari ini menentukan hari ibadah Kristen (Kis 20:27). Pada hari pertama minggu itu, kita diketahui bahwa beberapa org perempuan pergi ke makam pagi-pagi sekali ketika masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ketiga Injil Sinoptik menceritakan hal itu, tapi Yohanes hanya terfokus pada Maria Magdalena sbg persiapan pada percakapan Maria dan Tuhan Yesus dalam Yoh 20:11-18. Kehadiran yang lain ditunjukkan dalam ungkapan "kami tidak tahu" dalam ayat 2. Para perempuan itu bertujuan untuk meminyaki tubuh Yesus dengan lebih sempurna (Mrk 16:1).Yohanes tidak menceritakan batu itu dalam kisah penguburan Yesus, ataupun bgm caranya batu itu diambil. Apabila batu itu masih ada Maria pasti menemui kesulitan untuk memindahkannya: tetapi dengan batu sudah disingkirkan persoalannya menjadi beda pula. Menurut pikiran Maria situasi sudah makin jelek.Yohanes mengharuskan para pembaca membaca satu Injil Sinoptik. Dia juga tidak menyebutkan penjaga2 yg diceritakan oleh Matius (Mat 27:64-66). Kesimpulan apa lagi yg ada dalam benak Maria Magdalena ketika ia melihat kubur Yesus telah terbuka dan kosong, selain bahwa jasadNya telah diambil orang?  Dalam situasi spt itu, tentu saja tidak akan terpikir kemungkinan2 lain. Maka kemungkinan itu pulalah yang dia sampaikan kepada Simon Petrus dan seorang murid Yesus yg lain (Yoh 20:2). Kemungkinan itu membuat kedua org murid Yesus tidak sabar untuk memeriksa kebenaran berita yang disampaikan Maria Magdalena (Yoh 20:3-4). Dan ternyata memang benar. Kubur terbuka! Namun kedua murid tidak hanya terpaku pada fakta itu. Mereka juga memperhatikan sesuatu yg aneh. Kain peluh, yg tadinya menutupi kepala Yesus sudah tergulung dan terletak di tempat lain (Yoh 20:7). Ini aneh. Jika jasad Yesus memang dicuri, tentu pencurinya tidak akan menanggalkan kain yg dikenakan pada jasad Yesus. Keanehan tsb mengingatkan keduanya akan apa yg tertulis dalam KS mengenai kebangkitan (Yoh 20:9). Saat itu mereka menyaksikan bahwa apa yg tertulis dalam Kitab Suci telah digenapi. Mereka pun kemudian percaya bahwa Yesus telah bangkit (Yoh 20:8). Mendengar FT memang membangkitkan rasa percaya pada Tuhan. Org tidak mudah mempercayai Yesus, karya salib-Nya, kebangkitan-Nya, atau segala perbuatan ajaib yang Dia lakukan. Padahal semua kisah itu telah ditulis, baik sebagai nubuat maupun sebagai fakta historis. Meski demikian, ada saja orang yang berusaha memberikan penjelasan-penjelasan logis untuk menerangkan semua itu agar mudah diterima akal. Namun bila orang pernah mendengar firman Tuhan, bukan tidak mungkin ingatan akan firman membangkitkan iman. Hal ini pun harus didasari dengan sikap yang mau terbuka menerima kebenaran Tuhan. Karena hanya dengan memiliki sikap demikianlah, orang akan mau percaya walau sulit memahami.
Dari ketiga bacaan kami belajar:
1.       Kata Penebusan setelah Yesus wafat dan bangkit menjadi kata benda, berupa anugrah (hadiah) untuk mereka yg percaya padaNya, bukan kata kerja yang mesti manusia usahakan (terus menerus) dg menyambelih korban penebusan dosa (di Bait Allah) tiap tahun.
2.       Penyelamatan manusia menjadi sempurna dalam diri Yesus, kita org percaya memiliki hubungan yg baik kembali, stlh pelepasan kutuk, menjadikan semua bersih dan menggunakan pakaian yang baru (jubah kemuliaan/kelayakan (invisible) di hadapan Tuhan).
3.       Petrus, sbg seorang Yahudi belajar mengatasi sikap rasialis dan menerima Kornelius, seorang kafir sbg sesama manusia yg dikasihi Allah (Kis 10:34). Bahkan Petrus menyadari bahwa panggilannya mengikut Yesus adalah untuk memberitakan keselamatan bagi semua orang (Kis 10:42).
4.       Kita sudah disatukan dengan Kristus bersama kematianNya (Kol3:3), maka pikiran dan hati kita harus disesuaikan dengan pikiran dan hati Kristus. Di sini ada proses identifikasi diri dengan Kristus. Hidup kita hanya untuk menyenangkan hati Allah, dan melakukan kehendak Allah, yaitu hal-hal yg mulia dan bernilai kekal. Identifikasi diri dengan Kristus harus mewujud dalam transformasi hidup. Yaitu, perubahan hidup dari hidup duniawi -- semua perbuatan hawa nafsu yang mendatangkan murka Allah (Kol3:5-7), dan semua karakter berdosa yang tidak pantas dilakukan oleh orang kudus (Kol 3:8-9) -- menjadi hidup baru, yang rohani, yang terus menerus diperbaharui semakin menyerupai gambar Allah (Kol 3:10).

5.       Selamat Paskah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar