Rabu, 20 Mei 2015

                   Tinggal di dalam Kasih                    Minggu, 10 Mei 2015
Kis 10:25-26,34-35,44-48
25 Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus.26 Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: "Bangunlah, aku hanya manusia saja."34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.35 Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.44 Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.45 Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga,46 sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: 47 "Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?"48 Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.
1 Yoh 4:7-10
7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
Yoh 15:9-17
9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.17 Inilah perintah-Ku kpdmu: Kasihilah seorang akan yg lain."
Pembahasan:
Kis 10:25-26,34-35,44-48 Keselamatan untuk semua Yang Percaya padaNya
Pandangan Lukas dalam pertobatan Kornelius itu bukanlah sebuah kejadian perorangan saja.Yakni tampil dalam cerita itu sendiri dan dalam tekanan atas penglihatan Petrus dan Kornelius. Ada dua pengajaran yg dapat ditarik, yakni: 1) Allah sendiri telah menyatakan bahwa org2 bukan Yahudi harus diterima oleh jemaat Kristiani tanpa membebankan pada mereka seluruh hukum Taurat,  2) Allah sendiri menyatakan kpd Petrus bahwa ia harus bertamu pada seseorang yg tidak bersunat: di sini terasa masalah hub antara org2 Kristiani bekas Yahudi dan org2 Kristiani bekas kafir. Sampai sejauh ini, para rasul tidak ada tanda2 untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, tetapi tetap tinggal di Yerusalem sambil bersaksi hanya kpd org Yahudi. Lalu Lukas mengisahkan permulaan dari perluasan gereja ke seluruh Yudea dan Samaria, yg disebabkan penganiayaan Stefanus. Perluasan ini bukan karena visi dan rencana gereja, tetapi karena tindakan pengaturan Allah dalam menyerakkan org2 percaya. Untuk jelaskan terjadinya penganiayaan ini, Lukas mula-mula mengisahkan bgm Stefanus menjadi menonjol di antara tujuh diaken yang ada. Ada jurang besar antara org Yahudi dan non Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul dan surat2 di PB, satu hal yg membahayakan gereja adalah anggapan bahwa Kristen merup subordinat Yudaisme. Di sini Yudaisme beranggapan bahwa bila org bertobat menjadi Kristen maka ia harus menjadi org Yahudi juga ( adanya ganjalan krn org2 non Yahudi tidak kudus dlm Hukum Taurat). Memang orang nonYahudi yg takut akan Tuhan bukan suatu masalah. Maka kontak fisik dg org nonYahudi akan membuat org Yahudi menjadi tidak kudus. Petrus diyakinkan (dlm penglihatan Tuhan) untuk tidak lagi menjalankan tradisi Yahudi itu. Petrus mulai mengerti makna penglihatannya dan menerapkannya dalam hubnya dg Kornelius. Injil ditujukan bagi semua org. Orang tidak bisa tinggal dan mengurung diri hanya di dalam benteng kehidupannya untuk selama-lamanya (spt katak di dalam tempurung). Kekristenan lahir di dalam bangsa Yahudi (mulai dari rumah). Di sana ia belajar ttg moral dan keagungan Allah,ttg Taurat dan kebenaran dan nilai2 kehidupan lain yang sangat dalam, kaya, sarat, dan padat. Tetapi ia harus berani meninggalkan tradisi Yahudi itu. Dampak global kekristenan tidak bisa dibatasi dan dikurung dalam rumah bg Yahudi. Kristiani tidak ditentukan oleh makanan dan minuman yg halal / haram. Bagi org Yahudi, bergaul dg org non-Yahudi merupakan pantangan. Apa yang dilakukan Petrus menghancurkan hukum yg selama ini berlaku. Namun, Petrus melakukan semua itu karena Allah. Allahlah yg menghancurkan dua tradisi manusia yang saling bertolak belakang: Kornelius "si kafir" menyembah Petrus, dan keputusan Petrus "Yahudi" datang ke rumah Kornelius. Di dalam Allah hub sesama manusia tidak ada penghalang. Dg kata lain, tradisi yang bertentangan dg prinsip Allah haruslah dihapuskan dan diganti dg kebenaran firman Tuhan. Kornelius tidak perlu menjadi orang Yahudi untuk memperoleh keselamatan, karena keselamatan ada dalam Yesus Kristus (Kis 10:43). Firman ini membawa Kornelius dan keluarganya menjadi percaya dan bertobat.
1 Yoh 4:7-10 Kasih Yang Sempurna
Walaupun kasih merupakan suatu aspek dari buah Roh(Gal 5:22-23) dan bukti kelahiran baru (1 Yoh 2:29; 1 Yoh 3:9-10;1 Yoh 5:1), kasih juga adalah sesuatu yang harus kita kembangkan. OKi, Yohanes menasihati kita untuk saling mengasihi, memperhatikan sesama kita dan berusaha memajukan kesejahteraan mereka. Yohanes tidak berbicara mengenai itikad baik, tetapi mengenai keputusan dan sikap untuk menolong org lain (1Yoh 3:16-18Luk 6:31). Yohanes mendorong kita untuk memperlihatkan kasih krn tiga alasan:
1.   Kasih adalah sifat Allah sendiri (1Yoh 4:7-9), yang dinyatakan dengan mengaruniakan Anak-Nya kepada kita (1Yoh 4:9,10). Kita mengambil bagian dalam sifat-Nya karena kita lahir dari Dia (1Yoh 4:7).
2.   Oleh sebab Allah mengasihi kita, maka kita yang sudah mengalami kasih, pengampunan, dan pertolongan-Nya wajib menolong orang lain, meskipun untuk itu kita harus berkorban secara pribadi.
3.   Jikalau kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita dan kasih-Nya disempurnakan di dalam kita (ayat 1Yoh 4:12).
Ada pepatah "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya",artinya karakter seorang anak tidak jauh berbeda dibandingkan dg ortunya. Allah adalah sumber kasih (1 Yoh 4:7) dan kasih adalah natur Allah (1 Yoh 4:8), tiada kasih di luar Diri-Nya. Berarti tidak ada yang memiliki kasih kecuali ia ada di dalam Dia dan sebaliknya seorang yang ada di dalam Dia pasti memiliki kasih.Harus jelas dipahami bahwa kasih bukan Allah. Kasih adalah salah satu karakter Allah. Yang benar Allah adalah kasih. Relasi Allah dan manusia ditandai dan dibentuk oleh kasih. Berbagai perbuatan Allah bagi manusia adalah tindakan kasih. Namun dalam bagian ini Yohanes menunjuk kepada puncak pernyataan dan wujud kasih Allah kepada manusia. Kasih itu bukan hanya dinyatakan melalui pengorbanan Yesus, juga melalui pengorbanan Bapa yang telah merelakan Anak-Nya. Kasih Allah di luar salib Kristus adalah pengertian kasih yang tidak sempurna. Sebab itu kini kita yang telah menerima kasih Allah harus merespons dan mewujudkan kasih itu di dalam kehidupan kita (ayat 7,11). Jika tidak, maka tidak ada bukti bahwa kita telah mengalami kasih Allah dan sekarang sedang berelasi dengan-Nya (ayat 7). Relasi kepada Allah dan kepada sesama harus kita demonstrasikan dalam kehidupan kita. Hidup dalam kasih merupakan bukti hidup bersama Allah (ayat 13,15).Barangsiapa yang menyatakan bahwa ia lahir dari Allah atau bahwa ia mengenal Allah, ia harus mengasihi saudara2 seiman sbg sesama anggota tubuh Kristus. Karena kita adalah anak2 Allah dan kita mengalami kehadiran-Nya di dalam hidup kita, maka seharusnya kita merefleksikan karakter Bapa yg adalah kasih. Orang yang mengasihi membuktikan bahwa ia telah lahir dari Allah.Yohanes dg tegas mengatakan kpd umat, jika tidak ada kasih di dalam hati kita, jangan pernah menyatakan bahwa kita mengenal Allah. Meski kasih itu belum sempurna, harus tetap dinyatakan dan harus tetap bertumbuh. Kasih seharusnya tak bersyarat, dimiliki oleh semua org dan ditujukan untuk siapapun. Kita harus berusaha untuk mengasihi ketika tiap syaraf di dalam tubuh kita berdenyut di dalam kebencian dan keinginan membalas dendam. Salib Kristus tidak memberi kita pilihan ttg kasih. Kita harus mengatasi keangkuhan kita dan dg taat berusaha mempraktekkan kasih di dalam tiap situasi. Jika kita ingin lebih mengasihi, kita perlu belajar lebih dekat dg Allah. Relasi yg lemah di antara dua pihak dikuatkan bila keduanya semakin dekat dg Allah. Sebaliknya, kita tidak dapat bertumbuh dalam pengalaman kita dengan Allah tanpa mengasihi satu sama lain. Jika kita sudah mampu mengasihi, kita mesti bersyukur pada Allah. Namun jika kita merasa kurang mengasihi, kita harus berdoa, meminta Allah merubah hati kita. Dengan kasih, kita akan menemukan sukacita yang lebih besar di dalam hidup.
Yoh 15:9-17 Kasih menghasilkan buah
Memang kiasan ttg pengusaha, pokok anggur, dan ranting terbatas, di sini pentingnya dan sempurnanya kasih Bapa dan kasih Yesus. Kasih Yesus bagi murid2Nya adalah sempurna: kasih itu sama dengan kasih Bapa pada Yesus (AnakNya). Kasih Bapa bagi Yesus telah menjadi pola buat kasih Yesus bagi kita. Murid dihimbau untuk tidak melupakan kasih itu dan mengalami dan menikmati kasih itu. Kasih itu adalah fondasi hidup orang Kristiani. Yang tidak tinggal di dalam kasih Kristus, yang tidak memegang kesadaran penuh mengenai kasih Kristus, menjadi seperti bangunan tanpa fondasi shg bangunan mudah roboh. Perintah untuk tinggal di dalam kasih Kristus menolong kita untuk memahami perintah "tinggallah di dalam Aku". Kita perlu merenungkan kasih itu siang dan malam, dan memfokuskan hati dan pikiran kita pada Kristus.Yesus membuktikan diri-Nya penuh dg kasih. Sekarang Yesus menantang para murid untuk membuktikan kasih mereka kepada-Nya, yaitu dg taat perintah Yesus untuk saling mengasihi di antara mereka (Yoh 15:12). Hanya dengan tinggal terus di dalam Yesus, mereka sanggup untuk saling mengasihi (Yoh 15:10). Itulah buah yang harus dihasilkan para murid/gereja (Yoh 15:16). Yaitu, saat kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan taat kepada-Nya dan mempraktikkan hidup saling mengasihi di antara sesama umat Tuhan. Saat kita taat kepada firman-Nya dan hidup saling mengasihi, banyak orang akan dimenangkan kepada Yesus oleh kesaksian kita ini. Itulah buah-buah yang kita hasilkan sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam perumpamaan ini, ada dua hal penting dlm sudut pandang PL yang perlu diketahui. Pertama, sekali lagi Yesus menyebut diri-Nya dengan “Akulah”, suatu ungkapan yang menegaskan ke-Allah-an-Nya. Kedua, Yesus menyebut diri-Nya sbg Pokok Anggur yg benar,dalam PL, Israel disebut sbg kebun anggur Allah / pokok anggur milik Allah (Yes 5:1-7,10). Tetapi, Israel gagal menjadi pohon anggur yg mengeluarkan buah baik shg Allah membuangnya (Yer 2:21). Ketika di Yoh 8 Yesus meninggalkan bait Allah, di bab berikutnya Yesus jelas mencurahkan perhatian untuk membentuk sekelompok umat yg sungguh mengenal Allah. Semua yg seharusnya ada pada Israel, (semua gagal), kini digenapi sempurna di dalam kehidupan taat, kudus (harus dg pelepasan kutuk), dan hubungan akrab Yesus dengan Allah. Jadi, semua pengikut-Nya di dalam dia dan bersama Dia adalah Israel baru. Umat baru ini kini mereka harus berbuah lebat. Inilah yang Yesus kehendaki: para murid tinggal di dalam Yesus (Yoh 15:4,5,6,7) sebgm Ia di dalam para murid (Yoh 15:4); firman-Nya tinggal di dalam para murid (Yoh 15:7); para murid tinggal di dalam kasih-Nya (Yoh 15:9,10), sebagaimana Ia tinggal di dalam kasih Bapa (Yoh 15:10); dan, sukacita-Nya tinggal di dalam para murid (Yoh 15:11). Dg demikian, para murid (termasuk kita) dapat berbuah banyak dan menunjukkan bahwa kita adalah benar murid2 Yesus (Yoh 15:8). Seperti halnya Bapa yang menanamkan carang pada pokok anggur itu dan yang membersihkannya agar berbuah lebat, Bapa juga yang akan mengerat dan membuang carang yang tidak berbuah. Buah di sini bisa diartikan sebagai buah moral, kasih dan pelayanan yang melaluinya terungkap adanya kesatuan dengan Yesus. Entah ada berapa milyar murid Yesus yang kini hidup di bumi ini. Fakta ini membuat kita, sebagai murid, selamanya berutang kepada Allah, dan selamanya mesti merespons kasih itu dengan kasih kepada sesama kita. OKI, kondisi keberagaman di antara sesama murid Kristus harus kita hadapi dengan kesiapan dan kesigapan untuk mengasihi sesama murid. Bukan kolega dari denominasi atau sinode yang sama saja yang harus kita kasihi, melainkan sesama orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, Anak Allah. Manusia yang tidak dikasihi tidak akan pernah mampu mengasihi apalagi berbuat hal-hal yang didasari oleh kasih. Kasih yang kekal dari Allah Bapa dan Putra-Nya tak berkesudahan. Selayaknyalah orang percaya yang mengalami kelimpahan kasih menjadi teladan bagaimana bertindak sebagai orang yang dikasihi dan mampu mengasihi. Kasih Allah kepada orang percaya sungguh luar biasa. Pancarkanlah kasih! Selanjutnya, yang harus orang percaya lakukan adalah di mana pun kita berada, agar org lain pun mengalami kasih Allah.
Dari ke tiga bacaan kami belajar bahwa:
1.       Derajat kita sebagai umat Allah yg memiliki banyak dosa diangkat Yesus dg mengatakan kita sbg sahabatNya.
2.       Kalau tradisi dahulu terus ditetapkan, kita tidak mungkin mendapat keselamatan dari Yesus sang Juru Selamat kita, kini dari kitab Kisah Para Rasul disebutkan bahwa tradisi tidak jadi penghalang untuk itu semua, tradisi (liturgy)pun bisa menjadi berhala, perhatikan ibadat kita, apakah sudah sesuai dg Kitab Suci?
3.       Petrus menyampaikan fakta2 kebenaran Ilahi. Pertama sikap Allah thdp manusia tidak bergantung pada syarat lahiriah seperti: penampilan, ras, kebangsaan atau tingkat sosial tertentu (Kis 10:34-35). Allah tidak peduli terhadap perbedaan suku bangsa. Kornelius tidak perlu menjadi orang Yahudi untuk memperoleh keselamatan, karena keselamatan ada dalam Yesus Kristus (Kis 10:43). Kedua, Petrus menyampaikan bahwa kehidupan, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus yang juga merupakan inti dari Injil bagi semua bangsa. Firman ini membawa Kornelius dan keluarganya menjadi percaya dan bertobat. Ini merupakan proses perdamaian, ini Kabar Baik yg harus dikabarkan ke seluruh dunia.
4.       Kasih Tuhan menjadi sempurna dalam kita jika kita berani percaya dan membuka kehidupan kita di hadapan-Nya. Karena kita telah menjaga kehidupan kita benar, kita pun tidak takut menghadapi penghakimanNya.
5.       Tinggal di dalam Yesus ditunjukkan sikap Rut yg ingin selalu dekat dg Naomi (Rut 1:16), bukan seperti Yonatan yang meninggalkan Daud meski telah bersumpah (2 Sam 21:7) untuk selalu bersama dalam keadaan apapun, akhir dari keduanya jelas, Rut mendapatkan berkat, sedangkan Yonatan mendapatkan kematian (kutuk).

6.       anHanHanya kasih yang besar dari Tuhan mampukan kita menjadi murid yg taat & setia sampai akhir pertandingan hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar