Sabtu, 24 Januari 2015

                          Panggilan Tuhan                    Minggu, 18 January 2015
1 Sam 3:3b-10,19
3b Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah. 4 Lalu TUHAN memanggil: "Samuel! Samuel!," dan ia menjawab: "Ya, bapa."5 Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil; tidurlah kembali." Lalu pergilah ia tidur.6 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuelpun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali."7 Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya.8 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil anak itu.9 Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: "Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar." Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya.10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: "Samuel! Samuel!" Dan Samuel menjawab: "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." 19 Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.
1 Kor 6:13c-15a,17-20
13c Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasaNya.15a Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? 17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Yoh 1:35-42
35 Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya.36 Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!"37 Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.38 Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?"39 Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.40 Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.41 Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)."42 Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."
Pembahasan:
1 Sam 3:3b-10,19 Konsekwensi menjadi nabi
Cerita ini mengenai penyataan Allah yg pertama, yg menjadikan Samuel nabi, 1Sam 3:20. Ini bukan mimpi sebab Samuel justru dibangunkan oleh suara itu. Kata bukan sekadar bunyi, tetapi penyampaian makna melalui bunyi. Kata diucapkan karena ada hal yg ingin disampaikan oleh pengucapnya. Supaya itu terjadi kata tsb harus didengar. Akan sia-sia usaha pengucap, jika ternyata tidak ada telinga yang terbuka dan kehendak yang sedia untuk mendengar.Dengan arti kata peristiwa itu boleh dikatakan "penglihatan", 1Sam 3:15. Samuel memang tidak melihat apa-apa tetapi hanya mendengar suara Tuhan. Tidak mudah menjadi nabi di negeri sendiri, itulah yg Yesus alami. Org2 sekampung Nya, di Nazaret,menolak untuk percaya bahwa Dia adalah Nabi Allah (Luk 4:16-30) Tdk mudah bagi Samuel menjadi nabi utk menyampaikan berita penghukuman dari Tuhan bagi Eli, bapak dan mentor rohaninya. Samuel sendiri masih muda (1 Sam 3:1). Ia belum pernah mengalami panggilan Allah sebelumnya (1 Sam 3: 3-8). Yg memberitahu Samuel bahwa Allahlah yg memanggilnya justru Eli, yang kepadanya nubuat penghukuman ditujukan (1 Sam 3: 9,11-14). Bgm mungkin Samuel sekarang berkata-kata melawan Eli (1 Sam 3:15-18)? Nas ini menyajikan perbandingan ttg dua kondisi sikap thdp kata-kata Allah. Pertama, Samuel, anak muda yg belum pernah menerima firman Allah secara langsung, tetapi mendengar (1 Sam 3:7,9-10), dan Eli, imam dg pengalaman kerohanian segudang yg tidak mendengar (1 Sam3:13). Kedua, Samuel yang menyampaikan seluruh yang difirmankan Allah kepada Eli (1 Sam3:17-18) dan Eli yang tidak menyampaikan sepenuhnya kemarahan Allah kepada anak- anaknya (1 Sam3:12-13). Ketiga, jarangnya pernyataan firman Tuhan di zaman Eli (1 Sam 3:1) dengan tidak pernah gagal-Nya firman Tuhan pada masa Samuel. Bahkan perkataan Samuel pun sampai ke seluruh Israel (1 Sam 3:19-4:1a). Semua berkait dengan kata, firman, atau davar dari Allah (davar, kata Ibrani untuk kata firman). Karena itu, ketika Samuel bangun untuk keempat kalinya dan mendengarkan FT, ia bangun untuk menjadi bagian dari suksesi kenabian menggantikan Eli (ayat 20). Allah sendiri yang memilih Samuel, dan Ia menyertainya (1 Sam 3:19). Panggilan menjadi nabi bukan semata-mata kehormatan dan status, tetapi terutama kepercayaan untuk menjadi jurubicara Allah yang dapat diandalkan. Samuel dipersiapkan menjadi nabi dengan praktik langsung di bawah asuhan mentornya, Eli. Ia belajar mendengar dan membedakan suara Allah dari suara manusia. Ia belajar taat pada suara Allah, walaupun hal itu mungkin tidak menyenangkan manusia. Samuel lulus ujian pertama. Allah berkenan kpdnya (1 Sam3: 19, 21) dan seluruh Israel menerima dia sbg nabi Tuhan (1 Sam3:20). Kisah Nabi Samuel yg dikontraskan dg Imam Eli dan kedua anaknya kelak akan terulang secara berbeda pada kisah Raja Saul vs raja Daud pada pasal2 kemudian.  Jabatan nabi mungkin sudah tidak ada lagi dalam sejarah gereja. Namun Allah masih memakai anak-anak-Nya untuk menyuarakan kehendak Allah yg sudah tersurat dan tersirat dalam Alkitab. Adalah bagian kita untuk menjadi nabi2 Allah yg setia mengumandangkan kebenaran Allah. Namun bukan tidak mungkin akan ada risiko yg kita tanggung sbg konsekwensi dari pemberitaan itu. Jelas bahwa hidup Samuel adalah teladan, dan hidup Eli adalah peringatan bagi kita. Sbg Kristen, entah sudah berapa banyak firman, khotbah, renungan, tulisan dll  tentang kebenaran FT yang melewati dan mewarnai hidup kita. Jangan sia- siakan semua itu. Bangun dan dengarkan, lakukan dan beritakan!
1 Kor 6:13c-15a,17-20 Tubuh untuk kemuliaan Tuhan. 
Paulus mengarahkan perhatiannya kpd kelemahan moral yg mencemarkan gereja, rupanya disebabkan oleh penerapan kebenaran tentang kebebasan Kristiani dalam bidang seksual. Persoalannya adalah: Jika tidak ada pembatasan dalam hal makanan, salah satu selera dari tubuh, mengapa harus ada pembatasan dalam hal seksual, satu keinginan lainnya dari tubuh? Jawaban Paulus, yg diawali dg membahas prinsip kebebasan & menerapkannya scr khusus kpd masalah percabulan, kembali menonjolkan pemakaian Tidak tahukah kamu sebanyak tiga kali (1Kor 6: 15. 16, 19). Sekalipun makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan (saling memerlukan). Hubungan ini tidak berlaku bagi tubuh dan percabulan. Tubuh dirancang untuk memuliakan Tuhan, dan Tuhan diperlukan tubuh untuk melaksanakan hal ini. Paulus menggunakan istilah tubuh di sini dalam arti yang lebih luas daripada tabernakel jasmaniah saja. Istilah ini nyaris sama artinya dg kepribadian seseorang, hampir spt pemakaian istilah barangsiapa. Di dalam 1 Kor 6:19 Paulus rupanya menyamakan tubuh dg kamu. Hal ini, tentu saja, tidak selalu dilakukannya (2 Kor 12:3).Paulus mengingatkan jemaat Korintus, bahwa dahulu mereka memang berdosa, tetapi sekarang mereka telah dikuduskan dan dibenarkan dalam Yesus Kristus melalui baptisan. Konsekuensi dari perubahan status itu adalah:   a. mereka harus meninggalkan dosa-dosanya yang dahulu; b. mereka tidak lagi bebas melakukan segala hal yang dilakukan oleh komunitas di luar kekristenan. Standar yang baru ini bukan mempermasalahkan halal atau haram, tetapi apakah yg mereka lakukan itu berguna bagi dirinya dan memuliakan Tuhan (1 Kor6:20)? Peringatan ini diberikan agar kita tidak memberikan diri untuk diperhamba oleh apa pun. Yesus telah mati untuk menebus org2 yang percaya kepada-Nya secara utuh. Itu sebabnya orang percaya tidak dapat menyerahkan tubuh yang sudah menjadi milik Kristus kepada percabulan. Ada kecenderungan dalam pemikiran jemaat bahwa dorongan seksual itu dapat disamakan dengan keinginan untuk makan. Jadi jika dorongan untuk makan dituruti, seperti itu pulalah aktivitas seks. Masalahnya, jika dorongan seksual itu dituruti, kemungkinan bisa diikuti oleh percabulan. Percabulan bukanlah semata-mata hubungan fisik, namun juga melibatkan penyerahan diri secara total. Seluruh tubuh dan jiwa yg sudah menjadi milik Kristus menjadi milik dosa krn sudah diikat / dijadikan satu dengan pelacur. Ketaatan kepada peraturan seringkali dianggap sbg "belenggu" yang membatasi dan mengekang gerak langkah kita. Namun sebenarnya dengan mengekang tubuh dari dosa percabulan, kita justru dibebaskan dari perhambaan seks. Hasilnya adalah pembebasan tubuh dari perbudakan dosa. Dengan tubuh yang bebas, kita dapat menggunakannya untuk memuliakan Tuhan.
Yoh 1:35-42 Menjadi murid Kristus
Bagian ini menjadi peralihan antara pelayanan Yohanes Pembaptis dan pelayanan Yesus, karena dalam bagian ini murid Yohanes menggabungkan diri mereka dg Yesus. Jika membandingkan peristiwa ini dg peristiwa panggilan murid2 Tuhan Yesus dalam Injil Sinoptik (Mat 4:18-22; Mrk 1:16-20; dan Luk 5:1-11) ada beberapa perbedaan yg menonjol. Dalam ketiga Injil Sinoptik Yesus secara aktif memanggil mereka, sedangkan dalam Injil Yohanes murid2 dan Yohanes Pembaptis adalah yg berinisiatif. Panggilan yg diceritakan oleh Yohanes terjadi "di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis", sedangkan panggilan yg diceritakan dalam Injil Sinoptik terjadi di tepi Danau Galilea. Ternyata data dari keempat Injil berbeda tetapi tidak kontradiktif. Misalnya, tidak ada kata, "Ini panggilan yang satu-satunya...", dan Injil Sinoptik tidak berkata bahwa tidak pernah berbicara dengan mereka di Betania. Setiap penulis Injil mencatat peristiwa yg sesuai dg tujuan Injilnya masing2, dari pengalaman mereka dan dari riset mereka. Yohanes memakai sebutan "Kedua belas" mengenai kedua belas murid itu (Yoh 6:67, 70, 71; dan 20:24), tetapi dia tidak memberi daftar nama mereka seperti ada dalam Injil Sinoptik (Mat 10:2-4; Mrk 3:16-19; dan Luk 6:13-16).Mungkin daftar nama tidak dicatat oleh Yohanes krn dia tidak mau menyebutkan namanya sendiri.Kecenderungan manusia adalah melibatkan diri di dalam kegiatan yg menguntungkan dirinya. Seseorang memilih sekolah bagi pendidikannya, dokter bagi kesehatannya, dan gereja bagi pertumbuhan rohaninya. Pada kesaksian sebelumnya, tidak ada yang menerima pemberitaan Yohanes. Apakah ia mundur dari tugas kesaksian? Tidak! Pada hari berikutnya, Yohanes kembali bersaksi (Yoh 1:35-36). Ia mengulangi kesaksian yg sama, yakni Yesus adalah Anak Domba Allah. Yohanes terus bersaksi meski pada kesaksian2 sebelumnya tidak dijelaskan apakah ada yg percaya. Ternyata hasil bukanlah tujuannya. Meski tanpa hasil, Yohanes terus bersaksi. Ia tidak patah semangat atau putus asa. Tujuan hidupnya jelas. Ia adalah saksi bagi Kristus. Kesadaran inilah yang membuatnya tidak lekas patah semangat atau putus asa. Meskipun tidak ada yg percaya, Yohanes tetap merasa tidak perlu mengganti isi kesaksian yang berpusat pada Kristus. Apakah di kemudian waktu ada yang menerima kesaksiannya? Setelah mengulang kesaksian, barulah kelihatan ada murid2 Yohanes yang mulai tertarik. Dua orang muridnya segera meninggalkannya dan mengikuti Yesus. Yohanes tidak berkecil hati atau protes saat ia kehilangan murid-murid. Pertemuan murid-murid Yohanes dengan Yesus mengakibatkan mereka menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka yang percaya ini segera bersaksi dan Andreas membawa Petrus ke Yesus (Yoh1:41). Yesus menyatakan pada Petrus bahwa Ia mengenal masa lalu dan masa depan Petrus (Yoh 1:42). Rantai kesaksian tidak terputus. Filipus yang bertemu Yesus segera bersaksi kpd Natanael (Yoh 1:45) dan juga mengajaknya bertemu Yesus (Yoh 1:47). Kpd Natanael, Yesus mengungkapkan kemahatahuan-Nya (Yoh 1:47-48). Natanael yg bertemu Yesus segera menyembahNya (Yoh 1:49). Kepada mereka yang percaya, Yesus menjanjikan bahwa pengenalan mereka akan bertumbuh semakin dalam (Yoh 1:50-51).Pada murid2Nya yg pertama ini, Ia diperkenalkan penulis Injil Yohanes bukan sbg pemimpin besar yg sukses melainkan sbg Anak Domba Allah. Istilah Anak Domba berkaitan dengan kurban. Itu sebabnya, pertama, menjadi murid Yesus bukanlah menjadi pengikut pemimpin "besar" yang sukses. Mengikut Yesus adalah mengikuti org yg tujuan hidupnya menjadi kurban. Murid Yesus harus siap menderita bahkan sampai mati. Meskipun ada sukacita di dalamnya, namun kerelaan untuk menderita seperti Yesus adalah kualifikasi utama menjadi murid-Nya. Kedua, dalam interaksi dg para murid-Nya, Yesus adalah guru yang baik. Andreas (Yoh 1:40), Filipus (Yoh 1:45), dan Natanael (Yoh 1:49) mengatakan bahwa mereka telah menemukan Mesias yg dinubuatkan PL. Murid-murid itu mengenali identitas gurunya. Yesus bukan hanya mengajar, namun secara mengejutkan Ia mengajak murid2 itu tinggal bersamaNya untuk menyaksikan seluruh kehidupanNya (Yoh 1:39). Dalam pemuridan, pengetahuan ttg iman penting, tetapi tanpa keteladanan berarti sia-sia. Ketiga, Yesus aktif mencari murid (Yoh 1:43). Yesus mengamati dan memperhatikan sebelum Ia memilih (Yoh 1:48). Keempat, pemuridan yg sukses terjadi jika ada pelipatgandaan. Yesus memuridkan Andreas, lalu Andreas membawa Simon dan Filipus membawa Natanael. Pemuridan melatih orang memuridkan orang lain, bukan menjadikannya pengikut pasif. Kita telah menjadi murid Tuhan karena para pendahulu kita menerapkan prinsip pemuridan. Sekarang obor tugas pemuridan itu berada di tangan kita untuk disampaikan kepada penerus kita.
Dari ketiga bacaan kami belajar bahwa:
1.       Panggilan menjadi nabi bukan semata-mata kehormatan dan status, tetapi terutama kepercayaan untuk menjadi jurubicara Allah yang dapat diandalkan. Samuel belajar mendengar dan membedakan suara Allah dari suara manusia. Ia belajar taat pada suara Allah, walaupun hal itu mungkin tidak menyenangkan manusia.
2.       Tuhan berkenan menyatakan pilihan dan panggilanNya pada siapapun, tetapi yang dipilih dan dipanggil memiliki tanggung jawab merespons dalam iman dan ketaatan.
3.       Kesaksian kebenaran Firman Tuhan merupakan cara Allah membawa orang mengenal Yesus. Mulai dari kesaksian hidupNya, karakter, sikap dan kepribadianNya yang istimewa sampai kepada pengajaran2Nya. Dari sinilah Allah berkenan memanggil manusia untuk menjadi muridNya melalui cara di luar mimbar formal, dan metode2 tertentu. Pelajaran penting dari inisiatif Allah ini adalah bahwa pengenalan kita kepada Kristus akan mendorong kita untuk bersaksi tentang Dia dan karya-Nya.
4.       Dalam Kis 2:17  Tuhan akan mencurahkan RohNya ke atas semua manusia;teruna2mu akan mendapat penglihatan2, semua ini menggantikan panggilan Tuhan pada nabi yang terdahulu, hingga karya Tuhan selalu ada dalam kehidupan.
5.       Pemuridan yg sukses terjadi jika ada pelipatgandaan. Yesus memuridkan Andreas, lalu Andreas membawa Simon dan Filipus membawa Natanael. Pemuridan melatih orang memuridkan orang lain,menjadi pengikut aktif bukan menjadikan nya pengikut pasif. Kita yg menjadi murid Tuhan karena para pendahulu kita menerapkan prinsip pemuridan.
6. Semakin maju suatu peradaban, semakin berkembang juga budaya kuliner ini. Kota Korintus tentunya tak kurang pilihan menyediakan berbagai makanan yang menarik lirikan mata, mengaktifkan kelenjar liur, siap membuat lidah bergoyang dan perut berdendang. Rangsangan makananpun menjadi masalah iman juga. Sebab, bgm kita menempatkan arti makanan dan bgm membelanjakan uang untuk makanan, adalah ungkapan apa yg kita pandang penting dalam hidup ini. Meski ada masalah halal-haram (daging di Korintus berasal dari kuil penyembahan berhala), inti masalah yang kini perlu kita renungkan adalah benar-salah dalam pola makan kita. Jangan jadikan makanan berhala dalam hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar