Kamis, 08 Januari 2015

Iman Abraham                          Minggu, 28 Desember 2014
Kej 15:1-6, Kej 21:1-3
1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar."2 Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu."3 Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu."5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.1 TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.2 Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yg telah ditetapkan, sesuai dg firman Allah kepadanya.3 Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya.
Ibr 11:8,11-12,17-19
8 Karena iman Abraham  taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. 17 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal,18 walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu."19 Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.
Luk 2:22-40
22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah,"24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yg menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kpdNya apa yg ditentukan hukum Taurat,28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dg firman-Mu,30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan35 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri —, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dg berpuasa dan berdoa.38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua org yg menantikan kelepasan untuk Yerusalem.39 Dan setelah selesai semua yg harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Pembahasan:
Kej 15:1-6, Kej 21:1-3 Ahli Waris
Setelah berperang melawan raja2 itu, Abram merasa tidak mudah dan takut. OKI Allah meyakinkan Abram di dalam suatu penglihatan bahwa Ia adalah perisai dan upah Abram. Abram menanggapi kata-kata yg menguatkan ini dg mengingat bahwa dia tidak mempunyai anak dan karena itu tidak ada ahli waris (Kej 15:2), shg ia menganjurkan utk mengadopsi salah seorg hambanya menjadi ahli waris. Allah menolak usul itu, serta berjanji bahwa Abram akan memperoleh anak laki-laki dari istrinya Sarai yang mandul ( Kej 11:30) dan memiliki keturunan yg sangat banyak. Hal yg luar biasa dan kebesaran Abram ialah bahwa dia percaya Allah. Iman ini kepada Allah yg diperhitungkan kepadanya sbg kebenaran. Kisah ini berasal dari tradisi Yahwista. Tetapi barangkali dengannya digabungkan unsur2 pertama dalam kitab Kejadian yg berasal dari tradisi Elohista. Kepercayaan Abraham diuji. Pelaksanaan janji-janji Allah nampaknya tertunda. Lalu janji2 itu diperbaharui dg diperkuat sebuah perjanjian. Janji mengenai negeri yg akan menjadi miliki Abraham menjadi janji utama. Janji2 yg diberikan Allah kpd para bapa bangsa dan yg menjadi bukti belas kasihan dan kasih setia Allah oleh PB dihubungkan dg karya Yesus, bdk Kis 2:39; Rom 4:13. Sepanjang hidupnya Abram memanifestasikan iman yg kokoh kepada Allah. Mudah untuk menunjukkan kepercayaan ini ketika di dalam suasana menang perang. Ketika dia mengingat janji-janji Allah yg luar biasa kepadanya, dia terhibur karena pernyataan bahwa penggenapan semua janji Allah tsb adalah di dalam dan melalui keturunannya. Namun ketika dia bertambah tua dan melihat bahwa akhir hayatnya sudah dekat sedangkan dia tetap belum mempunyai anak, dia tergoda untuk meragukan janji-janji Allah tersebut. Imannya kepada janji2 tsb mulai goyah. Bagaimana mungkin Allah bisa memenuhi janji-Nya (1. Keturunan yg banyak, 2. Tanah terjanji 3. Salah satu keturunan nya menjadi penebus) sekarang? Abram memerlukan kepastian. Namun sampai saat itu, ia belum juga memiliki putra kandung. Kini TUHAN meneguhkan janji-Nya sekali lagi dan Abram percaya akan janji itu (Kej 15:6).Kata Ibraninya ialah pãgãd, "mengunjungi," dalam arti "berkunjung untuk membawa hukuman atau berkat." Di dalam hal ini yang dibawa Allah ialah sebuah berkat yang berharga. Kuasa dan kasih karunia ilahi mengadakan mukjizat. Sara melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya. Sesuai dengan janji-Nya, Allah menganugerahkan seorang anak laki-laki kepada Abraham dan Sara. Setiap nubuat dalam perjanjian akan digenapi secara ilahi melalui putra Abraham ini. Sang ayah dengan sukacita memberi nama kepada bayi itu, dan mendapat kehormatan untuk menyunatinya ketika ia berusia delapan hari. Ketika Sara menggendong bayi tersebut, sukacitanya tidak terlukiskan. Selama bertahun-tahun dia hidup menantikan saat yang sangat membahagiakan tersebut. Dia berkata, "Allah telah membuat aku tertawa, (menurut terjemahan American Standard Version, mempersiapkan tawa bagiku) setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku. Bagi para tetangga, tawa Sara itu merupakan tanda kejutan yang menyenangkan dipadukan dengan sukacita yang sungguh-sungguh dan ungkapan keceriaan yang penuh semangat. Bagi Sara tawa tersebut merupakan tawa penuh sukacita karena suatu perwujudan yang menakjubkan. Di tangannya terbaring anugerah Allah bagi dunia. Saat tsb merupakan saat ucapan syukur, sukacita dan penyerahan khidmat yang tidak dapat dilupakan.
Ibr 11:8,11-12,17-19 Menantikan Janji Tuhan
Para leluhur yg belakangan juga memberikan kesaksian yg sama. Abraham, Sara, Ishak, Yakub, Yusuf dan Musa merupakan saksi2 yg lebih baik lagi sebab mereka memainkan peranan yg demikian penting di dalam rencana Allah di bumi. Abraham merupakan teladan ketaatan dari hidup beriman. Ketika Allah memerintahkan dia untuk meninggalkan Ur, Abraham menjadi seorg pengembara yg tinggal di dalam kemah, pengembara rohani. dg mata yg diarahkan kpd sebuah kota yg masih belum kelihatan. Kemudian dengan sukarela dia menyerahkan Ishak kepada Allah. yakin sepenuhnya bahwa keturunannya melalui Ishak, sudah ditetapkan untuk menjadi berkat bagi dunia, tidak akan gagal sekalipun Ishak akan mati. Karena setia kepada janji perjanjian-Nya mengenai keturunan, Allah pasti akan membangkitkan anak itu. Bahkan kelahiran Ishak, putra perjanjian itu sendiri, merupakan bukti iman di pihak Abraham dan Sara. Sebab anak itu lahir ketika mereka sudah terlalu tua untuk bisa memiliki anak.Setelah memperkenalkan hidup beriman sbg pokok dalam nasihatnya yang terakhir, dan setelah menjelaskan berbagai unsur dan lawan dari hidup beriman tersebut, penulis kini melengkapi uraiannya dengan teladan dari sejumlah orang yang menjalani hidup beriman itu. Keadaannya seakan-akan ada seseorang yang selama ini mengikuti pembahasan sang penulis sekarang meminta suatu bukti untuk mendukung apa yang telah dikemukakan penulis tersebut. Adakah orang yang mampu hidup beriman seperti itu? Tentu saja! Siapa saja mereka itu? 11:1-12:4 merupakan jawaban penulis. Menantikan penggenapan suatu janji adalah pekerjaan yg tidak mudah. Apalagi ketika penggenapan janji yang kita tunggu itu tidak kunjung terjadi. Satu-satunya yang memampukan kita bertahan dalam penantian itu adalah jika kita kenal dan percaya penuh kepada pihak yang berjanji. Tidak heran kalau Abraham disebut bapak kaum beriman. Ia tekun menantikan penggenapan janji Allah walaupun kapan dan seperti apa realisasi janji itu tidak jelas. Ia menaati perintah Allah untuk pergi meninggalkan negeri leluhurnya dan tinggal di tempat asing (ayat 8). Kemah-kemah yang didirikannya di setiap perhentian menunjukkan bahwa ia selalu siap berpindah sesuai dengan petunjuk Tuhan sampai ia tiba di Tanah Perjanjian (ayat 9-10). Sikap iman Abraham ini sebenarnya merupakan gambaran sikap iman Kristen yang meyakini bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan merupakan bagian dari perjalanan hidup bermusafir (ayat 13). Tujuan mereka ada di depan, yaitu Surga yang dijanjikan Allah. Surga adalah tempat abadi yang jauh lebih indah dibandingkan kesementaraan dalam dunia ini (ayat 14-16).Kunci iman Abraham adalah ia percaya kepada kesetiaan Allah, Sang Pemberi Janji. Kepercayaan penuh ditunjukkannya dengan tidak ragu sedikit pun akan janji Allah mengenai ahli waris kandungnya, padahal secara biologis ia dan istrinya tidak mungkin lagi menurunkan keturunan (ayat 11). Imam Abraham teruji dan terpuji sebab sepenuhnya ditujukan kepada Allah dan diberdayakan oleh Allah. Umat Kristiani mewarisi kekayaan sejarah iman umat Allah masa lampau. Kepercayaan para tokoh iman itu disandarkan hanya pada Allah yang setia memenuhi janji-Nya. Kini, kita menyaksikan melalui Alkitab dan gereja penggenapan janji-janji Allah bagi mereka satu per satu terwujud. Patutkah kita meragukan kesetiaan-Nya?
Luk 2:22-40 Masa muda Yesus dan Yohanes
Cerita-cerita ttg kelahiran dan masa muda Yesus dan Yohanes oleh Lukas disusun begitu rupa shg menjadi sejalan (parallel). Kelahiran dan masa muda Yesus disoroti dari segi Maria, sedangkan oleh Matius disoroti dari segi Yusuf. Mulai Luk 1:5 ini sampai bab 3 Lukas (yang barang kali menggunakan di sini sumber-sumber khusus) meniru bahasa Yunani dari Septuaginta yg berbau bahasa Semit (Ibrani). Banyak ayat dalam bagian ini mengingatkan PL yg kerap disinggung. Keseluruhannya memberi kesan ketuaan. Lukas menghidupkan kembali suasana kalangan "org miskin", bdk Mat 5:3, di mana tokoh2 yg berperan dalam kisahnya ini hidup. Dari kalangan itupun Lukas mendapat informasi nya. Menurut hukum taurat, ibu-ibu yang baru bersalin dianggap "najis". Itu mengenai tubuh saja dan bukan berarti noda dosa. 40 hari sesudah bersalin mereka harus menghadap imam (datang ke kenisah) untuk dibersihkan dari noda "najis" itu. Pentahiran, yaitu pembersihan menurut hukum, dilakukan dg suatu upacara tertentu, dan pada kesempatan itu harus dipersembahkan seekor domba muda, atau oleh org2 miskin, dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak merpati. Dengan itu tentu saja Lukas hendak menekankan, bahwa Allah biasa memilih dan "meninggikan" orang rendah. Anak laki-laki yg sulung harus dipersembahkan kepada Allah, lalu ditebus lagi dengan membajar 5 sikel, jaitu kira-kira tiga perempat kilo perak, untuk kenisah. Apakah inipun dibayar untuk Yesus, tidak disebut. Yusuf dan Maria melakukan beberapa hal bagi bayi Yesus sesuai perintah Allah. Mereka menamai dia Yesus sesuai dg pesan malaikat (21). Mereka menyunatkan Yesus pada hari kedelapan sesuai tuntutan Hukum Allah (21). Perintah penyunatan bayi diberikan pertama kali kepada Abraham (Kej 17:12) dan kemudian menjadi aturan bagi umat Israel (Im 12:3). Lalu Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk pentahiran sesuai dg tuntutan Im 12:2-4, 6 (Luk. 2:22). Waktu pentahiran adalah 40 hari setelah kelahiran bayi. Ibu yang melahirkan bayi laki-laki dipandang najis untuk periode 40 hari dan 80 hari jika melahirkan bayi perempuan. Kemudian Yusuf dan Maria menyerahkan Yesus kepada Tuhan (Luk2:22-23). Penyerahan ini dilakukan karena Yesus adalah anak sulung. Dalam hal ini mereka mematuhi perintah Tuhan dalam kitab Keluaran dan Bilangan bahwa anak sulung harus diserahkan kepada Tuhan. Yusuf dan Maria juga mempersembahkan kurban (Luk 2:24). Kurban persembahan berupa sepasang burung tekukur atau dua ekor burung merpati karena Yusuf dan Maria tidak mampu membeli seekor anak domba. Tuntutan demikian diatur dalam Im12:8. Dalam segala hal yg mereka lakukan, Yusuf dan Maria menunjukkan ketaatan kpd Allah dan hukumNya. Mereka merupakan teladan yg baik dalam memberlakukan firman Allah dalam kehidupan. Menjelang akhir tahun, kiranya teladan Yusuf dan Maria membuat kita bercermin dan melihat ulang ketaatan kita dalam tahun yg akan kita lewati ini.
Dari ketiga bacaan kami belajar :
1.      Sikap iman Abraham ini sebenarnya merupakan gambaran sikap iman Kristen yang meyakini bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan merupakan bagian dari perjalanan hidup bermusafir (Ibr 11:13). Tujuan mereka ada di depan, yaitu Surga yang dijanjikan Allah. Surga adalah tempat abadi yang jauh lebih indah dibandingkan kesementaraan dalam dunia ini (Ibr 11:14-16).Kunci iman Abraham adalah ia percaya kepada kesetiaan Allah, Sang Pemberi Janji.
2. Empat puluh hari sesudah bersalin mereka harus menghadap imam (datang ke kenisah) untuk dibersihkan dari noda "najis" itu. Pentahiran, yaitu pembersihan menurut hukum, dilakukan dg suatu upacara ttn, dan pada kesempatan itu harus dipersembahkan seekor domba muda, atau oleh org2 miskin, dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak merpati. Dg itu tentu saja Lukas hendak menekankan, bahwa Allah biasa memilih dan "meninggikan" orang rendah. Anak laki-laki yg sulung harus dipersembahkan kepada Allah, lalu ditebus lagi dengan membajar 5 sikel, yaitu kira-kira tiga perempat kilo perak, untuk kenisah.
3. Kebutuhan spiritual lebih utama daripada kebutuhan lahiriah. Sejak kecil anak harus diperkenalkan kepada Yesus, agar ia menyerahkan hidupnya kepada-Nya. Sangatlah keliru bila dikatakan bahwa anak belum tahu apa-apa. Orang-tua bertanggungjawab membawa anak ke gereja dan mendorongnya untuk beribadah kepada Tuhan.
4. Kata yang pertama diucapkan Tuhan untuk Abraham adalah”Coba lihat”mengungkapkan bahwa dengan memandang (visual) janji Tuhan akan tergenapi, dengan mata kita dapat melihat seluruh kemampuan Tuhan dalam berkarya. Melalui Visual inilah Tuhan mengutamakan umatNya dalam setiap janjiNya.
5. Kata yang kedua adalah “Hitunglah” artinya jumlah yang akan diberikan Tuhan adalah tak terkira jumlahNya, tapi terhitung dengan jelas. Menghitung dapat dengan penjumlahan dan perkalian, dan kala mereka dalam perbudakan Mesir terlihat sekali pertumbuhan mereka berlipat ganda hingga para org Mesir ketakutan dg jumlah mereka.
6. Janji2 yg diberikan Allah kpd bapa bangsa dan yg menjadi bukti belas kasihan dan kasih setia Allah oleh PB dihubungkan dg karya Yesus (Kis 2:39; Rom 4:13). Sepanjang hidupnya Abram memanifestasikan iman yg kokoh kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar