Kearifan Pemerintah Minggu 17 Agustus 2014
Sir 10:1-8
1 Pemerintah yg bijak mempertahankan ketertiban pada rakyatnya,
dan pemerintahan org arif adalah teratur.2 Spt penguasa bangsa
demikianpun para pegawainya, dan seperti pemerintah kota demikian pula semua
penduduknya. 3 Raja yg tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi
sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya. 4 Di dalam
tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya la mengangkat org yang
serasi atasnya. 5 Di dalam tangan Tiihanlah terletak kemujuran seorg
manusia, dan kpd para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya. 6
Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kpd sesamamu apapun juga
kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. 7
Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun oleh manusia, dan bagi kedua2nya
kelaliman adalah salah. 8 Pemerintahan beralih dari bg yg satu kpd
bangsa yg lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang.
1 Ptr 2:13-17
13 Tunduklah, krn Allah, kepada semua lembaga manusia,
baik kepada raja sbg pemegang kekuasaan yang tertinggi,14 maupun
kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat
dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.15 Sebab inilah
kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan
orang-orang yang bodoh.16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan
seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi
kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.17
Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah,
hormatilah raja!
Mat 22:15-21
15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding
bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.16
Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya
kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan
jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab
Engkau tidak mencari muka.17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu:
Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"18
Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa
kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?19 Tunjukkanlah kepada-Ku
mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.20
Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"21
Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada
mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada
Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Pembahasan:
Sir
10:1-8 Dosa Kecongkakan
Di sini Sirakh membandingkan penguasa yg baik dg yg jahat, (Sir
9:17-Sir 10:3) dan kemudian berbicara mengenai Allah sbg sumber
kebijaksanaan(Sir 10:4-5). Dalam bag pertama, ketrampilan seniman adalah
semacam kebijaksanaan dg tangannya. Ucapan keras dalam ayat Sir 9:18
mengingatkan bahwa penguasa yg bicaranya kasar/ tdk terkontrol tdklah sukses.
Urutan Sir 10:1 mencerminkan tatanan Allah dalam semesta. Gaya amsal
tradisional dari Sir 10:2 mengingatkan kita dg amsal lain:anak spt ibunya dll.
Kemuliaan dan keluhuran Allah (Sir10:55) merup tema yg kelak dilihat dalam
kitab ini dan menunjukkan pilihan dan perlindungan Tuhan. Yang dimaksud 8
kecongkakan adalah Sir 10:6-18, Sir 10:19-27, Sir 10:28-Sir 11:1,Sir 11:2-6,Sir
11:7-9, Sir 11:10-13, Sir 11:14-19 dan Sir 11:20-28. Pengajaran pertama (Sir
10:6-18) mengenai dosa kecongkakan, jua berbicara mengenai kekerasan yg dapat
menyertai kecongkakan. Rupanya bin Sirakh percaya bahwa bertindak secara bebas
dpt menjadi bertindak scr keras(Sir 10:6). Motif2 dalam ayat 7-8
adalah bahwa baik Allah maupun bangsa terpilih membenci kecongkakan dan bahwa
sejarah telah menunjukkan diserahkannya kekuasaan kpd Negara lain. Pengajaran
ke dua (Sir 19-27)ttg pengajaran yg dihafalkan, pelajaran ke tiga (Sir
10:28-11:1)kebijaksanaan dg introduksi khas, pengajaran ke empat (Sir 11:2-6)
tg penampilan yg menipu, pengajaran ke lima (Sir 11:7-9)ttg pembicaraan yg
tidak bijaksana, pengajaran ke enam (Sir 11:10-13) ttg org yg mendidik dirinya
sendiri, pengajaran ke tujuh (Sir 11:14-19) ttg kekayaan dan kematian,
pengajaran ke delapan Sir 11:20-28) ttg kekayaan dan kemelaratan.
1
Ptr 2:13-17 Hidup yang diubahkan.
Seorang Kristen adalah warga yg taat hukum, cermat & penuh
disiplin diri. Doktrin ini dapat dibandingkan dg ajaran Paulus di Roma 13:1-7 dan Titus 3:1, 2.
Tentu saja perintah ini tidak berarti seorang Kristiani harus menyetujui
kejahatan. Kata-kata Petrus sendiri kepada Sanhedrin menunjukkan kenyataan tsb,
"Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang lebih baik: taat kepada kamu
atau taat kepada Allah" (Kis. 4:19).
Sekeluarnya dari penjara hidup Rudi berubah. Ia tidak lagi merokok, bermalas-malasan, dan berjudi. Dulu Rudi ditakuti sbg pengacau di kampungnya. Kini ia bekerja di kantor kelurahan sbg pesuruh. Beberapa teman lama mengajak Rudi kembali ke hidupnya yg dulu, namun ia justru membawa mereka satu per satu kpd Tuhan.Hidup baru seperti Rudi tidak mudah. Namun, itulah panggilan kita. Petrus menasihati umat Tuhan agar hidup mereka menjadi kesaksian dari hidup yg diubahkan Tuhan. Hanya dg hidup yg diubahkan maka dunia dapat melihat, mengenal Tuhan dan diselamatkan (ayat 11-12). Petrus memakai istilah pendatang dan perantau untuk menunjukkan bahwa anak Tuhan harus memandang dirinya sbg org asing yg menumpang di dunia ini shg tidak perlu mengikuti gaya, pola dan cara hidup orang dunia yg berdosa (ayat 10). Hidup yg diubahkan juga harus dinyatakan dg cara menghormati lembaga manusia yang didirikan untuk mengatur kehidupan masyarakat. Kita pun harus menjadi teladan dalam berbuat baik secara pribadi maupun pelayanan sosial yang berdampak luas bagi masyarakat. Selain itu, kita juga perlu terlibat berbagai kegiatan kemasyarakatan di rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, dan di mana pun. Hidup yang diubahkan Tuhan harus menjadi ciri khas kekristenan yang menjadi berkat bagi masyarakat di sekitar kita (ayat 15). Panggilan menjadi Kristiani menempatkan org percaya pada posisi dan hak istimewa. Namun posisi itu bukanlah merupakan kesempatan untuk bermegah. Kita dipanggil untuk tidak menyalahgunakan hak-hak istimewa itu. Petrus menjabarkan beberapa hal: pertama, himbauan agar umat tetap hidup sbg orang asing, mengasingkan diri dari keinginan duniawi (ay. 12). Kedua, Kristen dipanggil untuk "tunduk" kpd semua lembaga manusia, artinya Kristen memiliki keberadaan dan misi khusus dalam rencana Allah (ay. 13). Ketiga, Kristen dipanggil untuk hidup bertgjw di tengah kebebasan (ay.16).Memberlakukan hak istimewa. Hak2 istimewa biasanya dijadikan jaminan untuk bertindak semaunya, bebas dari berbagai batasan ketentuan dan kewajiban, yg cenderung mengarah pada tindak sewenang-wenang. Hak-hak istimewa yg disalahgunakan menciptakan manusia yg menuntut dilayani. Bukan demikian seharusnya sikap Kristiani! Walaupun Kristiani memiliki berbagai hak istimewa dari Allah, tetapi tetap metitikberatkan sikap hidup yg melayani. Pikirkanlah apa yang akan gereja alami apabila semua anggota menuntut untuk dilayani; sebaliknya apakah yg akan terjadi apabila setiap Kristen hidup untuk melayani (ay. 12, 15)?
Sekeluarnya dari penjara hidup Rudi berubah. Ia tidak lagi merokok, bermalas-malasan, dan berjudi. Dulu Rudi ditakuti sbg pengacau di kampungnya. Kini ia bekerja di kantor kelurahan sbg pesuruh. Beberapa teman lama mengajak Rudi kembali ke hidupnya yg dulu, namun ia justru membawa mereka satu per satu kpd Tuhan.Hidup baru seperti Rudi tidak mudah. Namun, itulah panggilan kita. Petrus menasihati umat Tuhan agar hidup mereka menjadi kesaksian dari hidup yg diubahkan Tuhan. Hanya dg hidup yg diubahkan maka dunia dapat melihat, mengenal Tuhan dan diselamatkan (ayat 11-12). Petrus memakai istilah pendatang dan perantau untuk menunjukkan bahwa anak Tuhan harus memandang dirinya sbg org asing yg menumpang di dunia ini shg tidak perlu mengikuti gaya, pola dan cara hidup orang dunia yg berdosa (ayat 10). Hidup yg diubahkan juga harus dinyatakan dg cara menghormati lembaga manusia yang didirikan untuk mengatur kehidupan masyarakat. Kita pun harus menjadi teladan dalam berbuat baik secara pribadi maupun pelayanan sosial yang berdampak luas bagi masyarakat. Selain itu, kita juga perlu terlibat berbagai kegiatan kemasyarakatan di rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, dan di mana pun. Hidup yang diubahkan Tuhan harus menjadi ciri khas kekristenan yang menjadi berkat bagi masyarakat di sekitar kita (ayat 15). Panggilan menjadi Kristiani menempatkan org percaya pada posisi dan hak istimewa. Namun posisi itu bukanlah merupakan kesempatan untuk bermegah. Kita dipanggil untuk tidak menyalahgunakan hak-hak istimewa itu. Petrus menjabarkan beberapa hal: pertama, himbauan agar umat tetap hidup sbg orang asing, mengasingkan diri dari keinginan duniawi (ay. 12). Kedua, Kristen dipanggil untuk "tunduk" kpd semua lembaga manusia, artinya Kristen memiliki keberadaan dan misi khusus dalam rencana Allah (ay. 13). Ketiga, Kristen dipanggil untuk hidup bertgjw di tengah kebebasan (ay.16).Memberlakukan hak istimewa. Hak2 istimewa biasanya dijadikan jaminan untuk bertindak semaunya, bebas dari berbagai batasan ketentuan dan kewajiban, yg cenderung mengarah pada tindak sewenang-wenang. Hak-hak istimewa yg disalahgunakan menciptakan manusia yg menuntut dilayani. Bukan demikian seharusnya sikap Kristiani! Walaupun Kristiani memiliki berbagai hak istimewa dari Allah, tetapi tetap metitikberatkan sikap hidup yg melayani. Pikirkanlah apa yang akan gereja alami apabila semua anggota menuntut untuk dilayani; sebaliknya apakah yg akan terjadi apabila setiap Kristen hidup untuk melayani (ay. 12, 15)?
Mat 22:15-21 Bukan mencari kebenaran
Analisis
Matius terhadap pelayanan Kristus dibuat berdasarkan empat wilayah geografis yg
tercantum dengan jelas: Galilea (4:12), Daerah Seberang Sungai Yordan (19:1). Yudea (20:17) dan Yerusalem (21:1). Bersama dg Injil Sinoptis
lainnya, ia menghilangkan pelayanan awal di Yudea yg secara kronologis terjadi
di antara 4:11 dan 4:12 (bdg. Yoh. 1-4). Matius mungkin bertolak
dari Kapernaum di Galilea karena di situ pula ia mulai mengenal Kristus (9:9)
Permusuhan para pemuka agama thdp Yesus
semakin menjadi-jadi. Mereka menggunakan segala cara untuk menghentikan Dia. Org
Farisi yang anti penjajah Romawi, kini berkomplot dengan org Herodian sahabat
Herodes, boneka kaisar. Mereka bersatu untuk menjebak Yesus (ayat 15-16). Bila Yesus mengatakan tidak
perlu membayar pajak, orang Herodian akan menuduh Yesus memberontak terhadap
pemerintahan Romawi. Sebaliknya, bila Yesus setuju, Ia akan kehilangan
popularitas di mata rakyat. Yesus tidak langsung menjawab,(tidak klarifikasi)
tetapi balik bertanya (ayat 19-20).
Pantaslah mereka membayar pajak kpd pemerintah Romawi. Inilah yg dipertegas
oleh Yesus ketika menanggapi pertanyaan yang menjerat dari org2
Farisi yang mendapatkan dukungan dari org2 Herodian, yakni anggota2
suatu partai Yahudi yg menghendaki keturunan Herodes Agung yg memerintah atas
mereka dan bukan gubernur Romawi. Mereka memperkirakan Yesus akan menjawab dg
'ya' atau 'tidak' terhadap pertanyaan mereka (17). Yesus menegur keras
kejahatan dan kemunafikan hati mereka, serta dg bijaksana menjawab pertanyaan
mereka (18-21). Jawaban Yesus telah menggagalkan niat hati mereka yang jahat
dan menelanjangi kemunafikan mereka (22).Jawaban Tuhan Yesus ini mencengangkan
semua lawannya (ayat 22). Beriman
kpd Yesus memang berisiko tinggi. Dunia yg tidak tunduk kpd Allah penuh dg
lika-liku kebiasaan yg perlu disikapi dg tepat. Hikmat dan integritas Yesus
mengalahkan segala kelicikan lawan2Nya. Teladanilah Yesus dan
kalahkan mereka! Pelajaran yg kita dapatkan dari perikop ini adalah pengajaran
Yesus ttg keberadaan umat Kristiani yg seharusnya dapat menempatkan diri sbg
warganegara Indonesia dan Sorgawi dalam proporsi yg tepat dan benar. Apakah
kita melakukan semuanya ini juga dalam rangka pengabdian kita kepada Allah,
yang semata2 tidak terkurung hanya dalam wadah keagamaan? Orang
Farisi (berarti: yang memisahkan diri) adalah kelompok awam yang menginginkan
pembaruan kehidupan rohani. Mereka sangat menekankan berbagai peraturan spt
pembasuhan, perpuluhan, dlsb. Orang Saduki (berarti: yg benar) adalah kelompok
terdidik yang berbeda pendapat dg Farisi. Kedua kelompok inilah yg bertanya kpd
Yesus. Orang yang rohani spt Farisi dan org yg rasional seperti Saduki, sama
bebalnya. Kewajiban adalah kewajiban. Orang Farisi mengharapkan jawaban yang
entah melawan Kaisar (dengan akibat ditangkap) / yg mengabdi kaisar (dengan
akibat dianggap tidak patriotis). Radikal sekali jawab Yesus. Serahkan kpd
kaisar yang milik Kaisar, serahkan kpd Allah yg milik Allah. Mengenal kuasa
Allah. Andai saja mereka sungguh mengenal Allah spt yg Allah nyatakan sendiri
di dalam KS, mereka pasti akan berjumpa dg Allah yg Maha Perkasa yg telah
menebus nenek moyang mereka dari cengkeraman penjajahan Mesir dan dari segala
kuasa gaib kekafiran Mesir.
Dari
ketiga bacaan kami belajar:
1.
Yesus mengajarkan ketaatan mutlak
kpd Allah saja (yg empunya segala-galanya) sambil bersikap penuh tgjw sebagai
warga negara.
2.
Keberadaan umat Kristiani yg
seharusnya dapat menempatkan diri sbg warganegara Indonesia dan WN Sorgawi
dalam proporsi yg tepat dan benar. Apakah kita melakukan semuanya ini juga
dalam rangka pengabdian kita kepada Allah, yang semata2 tidak
terkurung hanya dalam wadah keagamaan? Sehingga kita mengetahui porsi yg tepat
bagaimana kita bersikap dalam kehidupa sehari dalam bermasyarakat dan
mempertanggungjawabkan semua tindakan di hadapan Tuhan nanti di pengadilan
Surga.
3.
Keberadaan kita sebagai WN duniawi harus
diejawantahkan dari iman kita thdp Yesus Tuhan kita yg Maha adil dan Maha
segalaNya, sehingga kita benar dimata dunia dan di mata Tuhan.
4.
Kemampuan kita membedakan dalam bersikap
membutuhkan kebijaksanaan yg mendalam dari keimanan kita mengerti seluruh isi
Kitab Suci yg telah kita baca dan imani selama ini.
5.
Kebutuhan dalam bermasyarakat yg majemuk dalam
wadah NKRI membutuhkan kesanggupan mengerti sepenuhnya kehendak Tuhan dalam
menjalankan kebijaksanaan manusia yg mengarah ke egoisan diri dan keagungan
diri, karena berlawanan dg kehendak Tuhan utk merendahkan diri.
6.
Jejak Yesus dalam membedakan kehendak Bapa dan
manusia perlu kita tiru dan tetapkan dalam hati sehingga kita tidak terpengaruh
dalam kejahatan yg mendarah daging dari sifat kemunafikan dunia.
7.
Peralatan persenjataan Kerajaan surga (Ef
6:13-17) perlu kita gunakan dalam menghadapi segala kuasa iblis dan daging yg
selalu mengarah ke kebinasaan kekal, sehingga kita bisa bertahan dan memasuki
kerajaan surga dg penuh kemurnian dan kekudusan diri, Tuhan dan malaikatpun
menerima dg penuh sukacita dan sorak sorai.
8.
Dalam semua surat Paulus di tegaskan kelahiran
baru dalam Roh diperlukan dan segala persiapan diajarkan disana utk menghadapi
segala yg jahat di dunia ini sehingga kita dapat diangkat saat repture nanti.
9.
Kepenuhan hidup dalam kemurnian dan kekudusan
jiwa membawa kita menghasilkan kebenaran dan ketulusan dalam setiap tindakan
kita menghadapi segala kemungkinan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar