Minggu, 15 Februari 2015

Pemberitaan Injil

                 Pemberitaan Injil   Minggu, 8 February 2015
Ayb 7:1-4,6-7
1 "Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?2 Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya,3 demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.4 Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari.6 Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.7 Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik.
1 Kor 9:16-19,22-23
16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. 22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
Mrk 1:29-39
29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan.33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;37 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau."38 Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
Pembahasan:
Ayb 7:1-4,6-7 Jangan lari dari Tuhan.
Ayub kini berpaling dari teman2nya, yg rupanya tidak mengerti, dan berdoa kpd Tuhan. Perhatian Ayub yg terbesar selama semua percakapan adalah ttg Allah. Hati Ayub tidak pernah berpaling dari Allah yg dikasihinya.  Karena dialog antara Ayub dg sahabat2nya terkait dg keluhan Ayub dan bukan secara langsung dg penderitaan yg dialaminya, maka misi dari para sahabat lebih merup usaha penghakiman daripada penghiburan pastoral, dan ini makin nyata dalam siklus pembicaraan selanjutnya. Sekali lagi, di dalam permohonan banding Ayub kpd mahkamah tertinggi mengingat keputusan2 manusia tidak sesuai dg keadaan, yg terungkap dalam kerinduan Ayub yang mendalam utk membela dirinya di hadapan Tuhan,perdebatan tsb sampai membuat Allah harus menampakkan diri. Kehidupan ini merupakan rangkaian hari-hari di mana manusia mengharapkan datangnya, malam yg sejuk dan malam2 penuh kegelisahan di mana manusia mengharapkan datangnya pagi, sebuah lingkaran kesedihan dan keputusasaan (Ayb 7:1-6). Dg mengacu kpd kefanaan manusia yg dimunculkan oleh Elifas, Ayub kembali mengutarakan keluhannya. (Ayb 7:12a). Kitab Ayub membantah keyakinan ini.  Memang, Kitab Ayub penuh dg kepedihan dan barang siapa membacanya dg saksama, akan merasakan kepedihan yg dalam itu. Pasal 6 dan 7 merupakan salah satu bagian yg paling menyedihkan dari Kitab Ayub dan bahkan dari seluruh Alkitab. (Ayb 6:9,10;Ayb 7:16,20). Mendekatkan diri kpd Tuhan berarti kita membawa semua kepedihan, kebingungan, dan kekecewaan ini kepada-Nya. Dalam ketidakmengertian ttg penderitaan yang dialaminya, Ayub tidak lari dari Tuhan, justru sebaliknya, ia mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk paradoksal. Ini menegaskan keistimewaan manusia sampai2 Allah menyebut manusia gambar dan rupaNya sendiri; satu-satunya ciptaan Allah yg memiliki hakikat dan kedudukan sangat mulia. Di satu pihak ia menyadari dirinya adalah makhluk yg terbelenggu oleh waktu (Ayb 7:2,3), tidak bersifat abadi, hidup dalam realitas yg keras (Ayb 7:4-6). Jiwa dan raganya mengalami keresahan dan kesakitan. Namun, di pihak lain ia menyadari bahwa sebenarnya manusia agung di mata Tuhan (Ayb 7:17). Cita2 Allah menjadikan manusia menjadi agung serasi dengan kemuliaan-Nya, menjadi motivasi mengapa Allah menjaga (Ayb7:12), mendatangi sampai manusia terkejut (Ayb7:13), memperhatikan (Ayb7:17), menyertai (Ayb7:18), dan menyoroti sepak terjangnya (Ayb7:19). Kemuliaan itu terlalu berat bagi makhluk fana ini.
1 Kor 9:16-19,22-23  Hak rasul dan pemberitaan Injil. 
Dalam soal daging yg dipersembahkan kpd berhala itu, kasih kepada sesama harus diutamakan dari kebebasan hati nurani sendiri. Paulus dalam bab ini memperlihatkan bgm karena kasihnya kepada sesama, manusia meninggalkan banyak hak yg diberikan kepadanya berkat tugasnya sbg rasul. Di sini Paulus tidak menyimpang dari pokok pembahasan. Dia justru mengilustrasikan prinsip2 yg baru saja dikemukakan dg mengacu kpd pengalamannya sendiri. Selaku seorang rasul dan seorg yg juga memiliki kebebasan kristiani, dia dapat meminta dukungan keuangan dari org2 kepada siapa dia memberitakan Injil (1Kor 9:1-14). Akan tetapi sebetulnya dia tidak menggunakan haknya itu untuk memperoleh keuntungan (1 Kor 9:15-23). Keputusan semacam itu menuntut adanya disiplin pribadi dan kerelaan untuk hidup berkekurangan (1 Kor 9:24-27). Jemaat di Korintus tentu saja diharapkan untuk menerapkan pelajaran ttg penyangkalan diri dan disiplin diri ini thdp masalah makan daging yg dipersembahkan kepada berhala. Pada masa perkembangan gereja saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa sering sekali kita mendengar rumor tak sedap ttg hamba Tuhan yg memasang tarif dalam pelayanannya. Sering kita jumpai hamba Tuhan yg diperlakukan jemaat yang dilayaninya seolah kuda beban. Ia harus bekerja giat melayani dengan baik. Bila tidak, segudang cercaan dan gosip segera diberondongkan kepadanya. Meski mereka dituntut melayani sedemikian, jerih lelah mereka sering hanya dianggap pengabdian. Kesejahteraan hidupnya mungkin tidak diperhatikan dengan baik. Paulus menasihati jemaat agar tidak hanya cepat menuntut tetapi juga sigap menghargai dan memenuhi kewajiban dengan baik. Kalau rumor itu benar, maka para hamba Tuhan harus meneladani Paulus dalam pelayanannya sbg hamba Tuhan, yg tidak pamrih meskipun ia juga tidak menentang jemaat yg memberi dan hamba Tuhan yg menerima. Jemaat Korintus menyangsikan kerasulan Paulus karena ia tidak mau menerima bayaran dari mereka. Pada masa itu, di dunia Yunani- Romawi, ada banyak guru agama dan filsuf yg menghidupi diri mereka sendiri dari menerima bayaran, tetapi ada juga yg menghidupi diri mereka tanpa menerima bayaran, khususnya para filsuf. Tindakan Paulus menolak bayaran berarti menolak tunduk pada si pembayar. Hal ini menyebabkan Paulus dihujat. Paulus membela dirinya dg mengatakan bahwa kerasulannya itu terbukti dari buah2 yg dilihat dan dinikmati oleh jemaat Korintus (1 Kor 9:1,2). Jemaat Korintus adalah buah pelayanan Paulus. Seharusnya Paulus berhak menuntut dukungan mereka. Tetapi karena ada penginjil lain, jemaat itu agaknya lupa akan Paulus. Sebagai pelayan Tuhan yang baik, Paulus tidak undur karena kecewa, walau itu tentu menyakitkan. Apa kunci ketahanan Paulus? Ia memandang pelayanannya adalah bagi Tuhan dan demi perkembangan jemaat-Nya. Hanya satu obat penawar racun kekecewaan dalam pelayanan: pandanglah Kristus yang empunya pelayanan dan yang berhak menerima pengabdian terbaik kita. Lebih lanjut, sbg seorang rasul, Paulus memiliki sejumlah hak sebgm rasul2 lainnya (1 Kor9:4,5). Paulus menyatakan bahwa dirinya berhak menerima bayaran dari jemaat Korintus dg berdasarkan: [1] pikiran logis manusia (1 Kor9:6-8); [2] firman Tuhan PL (1 Kor9:9-10) yang intinya adalah setiap pelayan jemaat berhak mendapatkan upahnya dari jemaat yg bersangkutan (1 Kor 9:11-12a). Namun, Paulus menolak upah mereka karena ia tidak mau menjadi batu sandungan dalam penginjilan. Mengapa? Karena: [1] bagi Paulus pemberitaan Injil adalah tugas; [2] Injil yg dia beritakan memiliki makna lebih penting daripada upah yang berhak diterimanya. Sikap Paulus tsb semakin menjelaskan kepada kita bahwa upah yang paling penting bagi Paulus adalah upah kebebasan untuk tidak menerima upah demi Injil (1 Kor 9:18).
Mrk 1:29-39 Cari dulu kehendak Tuhan
Pelayanan di Galilea ditandai dg tiga perjalanan pemberitaan Injil, yaitu ketika Kristus scr sistematis memberitakan amanat-Nya ke setiap pelosok dari Galilea. Perjalanan pertama dilaporkan oleh Markus adalah pelayanan di Kapernaum dan daerah pedesaan Galilea, dg penekanan pada kapernaum. Mrk 1:21-34 merupakan gambaran dari kegiatan suatu hari di kota kecil di tepi laut itu. Nama-nama seperti Samuel, Elia, Elisa, Yesaya, Yehezkiel, Daniel adalah nabi yang tidak asing bagi orang Israel. Sebagian dari mereka tampil seperti sesama mereka manusia biasa. Sebagian tampil agak unik,ini dilakukan oleh Yehezkiel dan Yohanes Pembaptis. Kita patut bersyukur bahwa Allah bicara melalui para nabi. Yesus adalah Nabi atas segala nabi. HidupNya sepenuhnya serasi dan menggenapi firman Allah. Yesus adalah wujud dari panggilan, arahan, sapaan, teguran, ungkapan kasih, penggenapan janji keselamatan Allah bagi manusia. Itulah maksudnya dikatakan bahwa Ia memberitakan Injil.  Popularitas disukai banyak orang. Seorang artis baru akan melakukan banyak cara agar dia bisa populer dan menjadi laris. Orang yg bukan artis senang juga bila bisa populer. Seorang pendeta pun pasti senang bila terkenal dan banyak diminta untuk berkhotbah di mana-mana. Namun Yesus menunjukkan bahwa popularitas bukanlah segalanya, bila itu tidak sesuai dg tujuan Allah dalam hidupNya. Peristiwa di Bait Allah rupanya menjadi buah bibir di Kapernaum. Akibatnya, menjelang malam, seluruh penduduk kota berkerumun di depan pintu rumah Simon dan Andreas. Mereka membawa orang2 yg sakit dan kerasukan setan (Mrk1:32). Bila seluruh penduduk kota minta dilayani, bisa dibayangkan berapa jam waktu yg diperlukan Yesus untuk menangani mereka. Dalam pelayanan-Nya, Yesus tidak hanya mengajar banyak orang. Yesus juga menyembuhkan banyak orang, termasuk ibu mertua Simon, yang menderita sakit demam (Mrk1:30). Lazimnya orang yang baru sembuh dari sakit, badan terasa lemah, karena itu diperlukan waktu beberapa lama untuk beristirahat dan mengembalikan kondisi tubuh. Tetapi, tampaknya ini tidak berlaku bagi ibu mertua Simon. Segera setelah disembuhkan ia langsung melayani Yesus (Mrk1: 31). Ini memberi indikasi bahwa penyembuhannya segera dan sempurna. Penyembuhan yg Yesus lakukan lahir dari belas kasih thdp mereka yang menderita. Tidak hanya org sakit, org2 yang kerasukan setan pun dibawa kepada Yesus untuk disembuhkan dan dilepaskan dari cengkeraman setan (Mrk1:32,34). Dalam Mrk 1:24, setan bahkan menyapa Yesus sebagai 'Yang Kudus dari Allah'. Tetapi, Yesus membentaknya untuk tidak bicara.Menarik untuk dicatat bahwa Yesus tidak memperbolehkan setan2 untuk berbicara meski mereka mengenal Yesus. Ia mengusir setan krn setan tak berhak mendominasi hidup manusia atau membuat manusia menderita. Yesus menolak kesaksian setan dan roh-roh jahat, karena kesaksian mereka tidak lahir dari kesadaran dan suka rela. Mereka mengenal siapa Yesus, tetapi mereka tidak mau hidup taat terhadap Yesus. Inilah iman model ala setan (Yak 2:19): mengenal Yesus bahkan beribadah di rumah ibadat, tetapi tidak mau taat kepada kehendak Yesus; percaya pada Yesus, tetapi hidup menurut kehendak sendiri. Sampai keesokan pagi, org Kapernaum masih mencari-cari Yesus. Murid2 yg takjub dg antusiasme penduduk kota jadi bersemangat mencari Yesus. Dengan antusias pula mereka memberitahu tentang orang banyak yang mencari-cari Dia. Namun respons Yesus di luar dugaan. Saat itu Yesus malah mengajak mereka pergi ke kota lain (Mrk1:38). Para murid tampaknya belum memahami misi Yesus di dunia ini: bukan untuk memenuhi keinginan orang banyak melainkan untuk menggenapkan rancangan Allah. Kehilangan orientasi hidup dapat terjadi bila kita menjadikan kepuasan orang lain sbg tujuan hidup. Mungkin saja dg begitu kita jadi disukai orang banyak dan populer. Namun apakah dg jalan demikian kita sudah menyenangkan Allah? Lalu bgm cara agar kita tetap berjalan di jalur yang benar? Lihat apa yang Yesus lakukan. Di tengah kesibukan pelayanan, Yesus berdoa (Mrk 6:46 dan Mrk 14:35). Mengapa Yesus harus berdoa? Doa adalah komunikasi dengan Allah. Melalui doa, Yesus menyatakan dua hal. Pertama, relasi-Nya dengan Allah sangat intim. Kedua, Yesus menyatakan ketergantungan-Nya kepada Allah.Ia menyediakan waktu untuk bersendiri dengan Allah guna mencari kehendak-Nya.
Dari Ketiga bacaan kami belajar bahwa:
1.       Bagi Ayub perdebatan itu bukan merupakan penyelidikan yg obyektif ttg penderitaan pada umumnya, melainkan suatu fase baru yg lebih menyakitkan dari penderitaannya. Para sahabat ikut membantu serta bersekongkol dg Iblis dalam memusuhi Allah dan menggelapkan jalan hikmat bagi Ayub.
2.       Kehidupan manusia, khususnya Ayub, adalah bagaikan pertempuran berat utk seorang prajurit / pekerjaan berat dan melelahkan untuk seorang petani. Kehidupan ini merupakan rangkaian hari-hari di mana manusia mengharapkan datangnya, malam yg sejuk dan malam2 penuh kegelisahan di mana manusia mengharapkan datangnya pagi, sebuah lingkaran kesedihan dan keputusasaan (Ayb 7:1-6).
3.       Dalam ketidakmengertian ttg penderitaan yg dialaminya, Ayub tidak lari dari Tuhan, justru sebaliknya, ia mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Manusia hendaknya bercermin dari kitab ini dan sikap Ayub yg berserah penuh.
4.       Wawasan Ayub ini dalam, perlu kita tangkap dan tanggapi dengan benar. Semua kita terbatas, ada kekurangan, dan memiliki banyak simpul-simpul rapuh. Akan tetapi, Allah memiliki rencana agung untuk setiap kita.
5.       Tindakan Paulus menolak bayaran berarti menolak tunduk pada si pembayar. Hal ini menyebabkan Paulus dihujat. Paulus membela dirinya dg mengatakan bahwa kerasulannya itu terbukti dari buah2 yg dilihat dan dinikmati oleh jemaat Korintus (1 Kor 9:1,2). Jemaat Korintus adalah buah pelayanan Paulus. Dia berhak menuntut dukungan mereka. Seharusnya Hamba Tuhan meneladan sikapnya dalam melayani bukan utk dilayani (menentukan waktu dan tempat)
6.       Markus mengajak kita mendekat kpd pribadi Yesus. Bukan kepada sekumpulan ajaran belaka. Keterpukauan org2 yg mengenal Yesus itu disampaikan kpd kita agar kita berani datang mendekat dan mendengarkanNya. Dalam memberi pengajaran Markus juga memperlihatkan, Yesus juga menyingkirkan pengaruh roh jahat yang mengancam kita. Inilah kebesaranNya. Inilah kuasaNya dan kita diajak mendekat padaNya.

7.       Pemberitaan Injil kini telah tersebar ke seluruh dunia, hanya jumlahnya kini makin menurun karena tidak digiatkan untuk membaca Kitab Suci. Mengerti apa isiNya, apa perintahNya, apa gunaNya, apa kebenaran yang ada di dalamNya. Bila umat mengerti semua ini untuk kehidupan keseharian manusia di dunia, mereka pasti membacaNya dengan bersemangat.Injil adalah kompas hidup untuk mencapai surga yang abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar