Kesetiaan seorang Hamba Minggu 13 April 2014
Yes 50:4-7
4 Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang
murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang
yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar spt
seorang murid.5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak
membe rontak, tidak berpaling ke belakang.6 Aku memberi punggungku
kpd org2 yg memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yg mencabut
janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.7
Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu
aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku
tidak akan mendapat malu.
Flp 2:6-11
6 yg walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap
kesetaraan dg Allah itu sbg milik yg harus dipertahankan,7 melainkan
telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia.8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu
salib.9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan
mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,10 supaya dalam
nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi
dan yang ada di bawah bumi,11 dan segala lidah mengaku: "Yesus
Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Mat 26:14-27:6
14 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu,
yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.15 Ia berkata:
"Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada
kamu?" Mereka membayar 30 uang perak kepadanya.16 Dan mulai
saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.17
Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus
kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan
perjamuan Paskah bagi-Mu?"18 Jawab Yesus: "Pergilah ke
kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di
dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan
murid-murid-Ku."19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang
ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.20 Setelah
hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.21
Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu,
sesungguh nya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."22
Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang
kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?"23 Ia menjawab:
"Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan
ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.24 Anak Manusia memang akan
pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang
yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu
sekiranya ia tidak dilahirkan."25 Yudas, yang hendak
menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata
Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."26 Dan
ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat,
memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata:
"Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku."27 Sesudah itu Ia
mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata:
"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.28 Sebab inilah darah-Ku,
darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.29
Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi
hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru,
bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku."30 Sesudah
menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit
Zaitun.31 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Malam ini kamu
semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh
gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.32 Akan tetapi
sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea."33
Petrus menjawab-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau,
aku sekali-kali tidak."34 Yesus berkata kepadanya: "Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah
menyangkal Aku tiga kali."35 Kata Petrus kepada-Nya:
"Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal
Engkau." Semua murid yang lainpun berkata demikian juga.36 Maka
sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama
Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini,
sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."37 Dan Ia membawa
Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan
gentar,38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih,
seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan
Aku."39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya:
"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari
pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang
Engkau kehendaki."40 Setelah itu Ia kembali kepada
murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada
Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?41
Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh
memang penurut, tetapi daging lemah."42 Lalu Ia pergi untuk
kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak
mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"43
Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka
sudah berat.44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa
untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.45 Sesudah
itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah
sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan
ke tangan orang-orang berdosa.46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia
yang menyerahkan Aku sudah dekat."47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas,
salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan
besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan
tua-tua bangsa Yahudi.48 Orang yang menyerahkan Dia telah
memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah
Dia, tangkaplah Dia."49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus
dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia.50 Tetapi
Yesus berkata kepadanya: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?"
Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.51 Tetapi
seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus
pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.52
Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam
sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.53
Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera
mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?54 Jika
begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang
mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"55 Pada saat itu
Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu
datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap
hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku.56
Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab
nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.57
Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam
Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua.58 Dan
Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar, dan setelah masuk
ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat kesudahan perkara
itu.59 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari
kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati,60
tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi
akhirnya tampillah dua orang,61 yang mengatakan: "Orang ini
berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari."
62 Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya:
"Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini
terhadap Engkau?"63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam
Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami,
apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak."64 Jawab Yesus:
"Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai
sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yg Mahakuasa dan
datang di atas awan-awan di langit."65 Maka Imam Besar itu
mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita
perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.66 Bagaimana
pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum
mati!"67 Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya;
orang-orang lain memukul Dia,68 dan berkata: "Cobalah katakan
kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"69 Sementara itu Petrus duduk di luar di
halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya:
"Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu."70
Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu,
apa yang engkau maksud."71 Ketika ia pergi ke pintu gerbang,
seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ:
"Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu."72
Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang
itu."73 Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang
kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka,
itu nyata dari bahasamu."74 Maka mulailah Petrus mengutuk dan
bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah
ayam.75 Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus
kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga
kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.1
Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul
dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.2 Mereka membelenggu
Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.3
Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi
hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak
itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua,4 dan berkata: "Aku
telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi
jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!"5
Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ
dan menggantung diri.6 Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan
berkata: "Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti
persembahan, sebab ini uang darah."
Pembahasan:
Yes 50:4-7 Lidah seorang murid
Ini Nyanyian Hamba Tuhan yang ketiga. Hamba tidak digambarkan sebagai
seorang nabi tetapi lebih-lebih sebagai seorang berhikmat, murid Tuhan yang
rajin, Yes 50:4-5.
Ia diberi tugas sendiri mengajar mereka "yang takut akan Tuhan", Yes 50:10,
artinya orang Israel yang takwa, tetapi juga mereka yang sesat, yang
"hidup dalam kegelapan", Yes 50:10.
Dengan tabah hati dan berkat pertolongan Tuhan, Yes 50:7-9,
Hamba itu menanggung penganiayaan, Yes 50:7-9,
hingga Tuhan menjadikannya jaya, Yes 50:9-11.
Sampai dengan Yes 50:9 Hamba sendiri berbicara, lalu nabi angkat bicara. Yesaya 50:4-6 memaparkan identitas Sang Hamba. Demi melaksanakan panggilan-Nya,
Ia menundukkan diri menjadi murid Tuhan. "Lidah" dapat berarti
"bahasa", atau dapat pula berarti "kemampuan berbicara"
(ayat 4).
Dikaruniai "lidah seorang murid" berarti "diajar untuk
mengatakan apa yang didengar dari Tuhan". Dengan demikian dapat memberi
semangat baru kepada orang yang letih lesu. Namun maknanya ternyata lebih dalam
lagi. Kata-kata Sang Hamba juga harus menegaskan dan menggarisbawahi kata-kata
Tuhan yang mengampuni dan menyelamatkan. Itu yang Tuhan harapkan dari
Hamba-Nya. Sebab itu setiap pagi Tuhan membukakan dan menajamkan
pendengaran-Nya. Segenap kehidupan Sang Hamba harus diserahkan untuk meneruskan
firman Tuhan yang Ia dengar. Berserah berarti juga tetap taat dan setia meski
orang lain menolak pemberitaan-Nya (ayat 6).
Syukur kepada Tuhan, Tuhan sendiri akan menjadi pembela Sang Hamba (ayat 7-9).Kalau
Sang Hamba saja memiliki gambaran demikian apalagi kita. Jangan biarkan
"lidah" kita menjadi "lidah yang tak bertulang", yang tidak
bisa kita kontrol. Sebaliknya berusahalah dengan segenap daya menjadikan lidah
kita sebagai "lidah seorang murid". Artinya lidah seorang yang sudah
diajar, yaitu yang dikendalikan sehingga bermanfaat. Banyak pelayan Tuhan yang
kegunaannya menjadi sangat berkurang karena lidah yang tidak dikekang. Entah
karena kata-kata yang sembarangan atau kuasa rohani yang bocor melalui
percakapan yang sembrono (Pkh.
5:2). Mungkin juga karena kata-kata digunakan bukan untuk
memberitakan kebenaran melainkan untuk menyenangkan pendengaran orang lain.
Maka yang ada hanyalah penyesatan, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di
hadapan Tuhan (Mat. 12:36-37). Salah
satu ukuran kedewasaan atau kematangan rohani seseorang adalah apa yg
dikeluarkan dari mulutnya. Murid Tuhan yg dewasa pastilah berkata-kata
sekualitas kata-kata Tuhannya.
Hamba yang taat
Pada bagian ini, kita disuguhi teguran Allah kepada Israel yang tidak mau kembali dan taat kepada-Nya (ayat 1-3) dan perjuangan serta ketaatan si hamba Allah dalam menjalankan panggilan Tuhan (ayat 4-11). Ayat 4-9 merupakan Nyanyian Hamba yang ketiga. Allah menegur Israel yang mengeluh dan mempersalahkan Allah atas penderitaan mereka di pembuangan. Hukuman Allah atas mereka terjadi karena mereka tidak mau taat kepada-Nya sebagai hamba Allah yang diutus untuk melaksanakan kehendak-Nya. Mereka adalah hamba Allah yang gagal. Kontras sekali dengan hamba yang dinyanyikan dalam Nyanyian Hamba ketiga ini. Di sini, hamba Allah rela menjadi murid yang taat kepada Allah. Setiap hari ia duduk di bangku sekolah milik Allah untuk berguru pada-Nya. Telinganya disendengkan untuk mendengar segala pengajaran-Nya. Lidahnya tidak putus-putus memperkatakan firman Allah agar dapat menguatkan hati yang lemah dan semangat yang pudar (ayat 4-5). Bahkan saat orang-orang yang dilayaninya menolak dan menghinanya ia tetap setia menjalankan tugas kehambaannya sebab ia yakin Allah ada di pihaknya dan akan membela serta membuktikan kebenarannya (ayat 7-9). Allah sendiri menyatakan: "Inilah hamba-Ku yang berhasil" (ayat 10-11).Tuhan Yesus adalah Hamba Allah yang berhasil. Walau ditolak bahkan dibunuh, Ia tetap setia menjalakan misi-Nya menyelamatkan manusia. Pelayanan-Nya berdampak kepada transformasi hidup orang yang dilayani-Nya. Anda dan saya adalah buah-buah pelayanan-Nya. Kita sekarang adalah hamba-hamba Allah yang dipanggil untuk menyaksikan karya Kristus itu kepada semua orang. Mari kita meneladani Tuhan Yesus dg taat kepada Allah dan tidak gentar menghadapi penolakan serta tekanan dunia ini. Allah akan memelihara dan membela kita.
Pada bagian ini, kita disuguhi teguran Allah kepada Israel yang tidak mau kembali dan taat kepada-Nya (ayat 1-3) dan perjuangan serta ketaatan si hamba Allah dalam menjalankan panggilan Tuhan (ayat 4-11). Ayat 4-9 merupakan Nyanyian Hamba yang ketiga. Allah menegur Israel yang mengeluh dan mempersalahkan Allah atas penderitaan mereka di pembuangan. Hukuman Allah atas mereka terjadi karena mereka tidak mau taat kepada-Nya sebagai hamba Allah yang diutus untuk melaksanakan kehendak-Nya. Mereka adalah hamba Allah yang gagal. Kontras sekali dengan hamba yang dinyanyikan dalam Nyanyian Hamba ketiga ini. Di sini, hamba Allah rela menjadi murid yang taat kepada Allah. Setiap hari ia duduk di bangku sekolah milik Allah untuk berguru pada-Nya. Telinganya disendengkan untuk mendengar segala pengajaran-Nya. Lidahnya tidak putus-putus memperkatakan firman Allah agar dapat menguatkan hati yang lemah dan semangat yang pudar (ayat 4-5). Bahkan saat orang-orang yang dilayaninya menolak dan menghinanya ia tetap setia menjalankan tugas kehambaannya sebab ia yakin Allah ada di pihaknya dan akan membela serta membuktikan kebenarannya (ayat 7-9). Allah sendiri menyatakan: "Inilah hamba-Ku yang berhasil" (ayat 10-11).Tuhan Yesus adalah Hamba Allah yang berhasil. Walau ditolak bahkan dibunuh, Ia tetap setia menjalakan misi-Nya menyelamatkan manusia. Pelayanan-Nya berdampak kepada transformasi hidup orang yang dilayani-Nya. Anda dan saya adalah buah-buah pelayanan-Nya. Kita sekarang adalah hamba-hamba Allah yang dipanggil untuk menyaksikan karya Kristus itu kepada semua orang. Mari kita meneladani Tuhan Yesus dg taat kepada Allah dan tidak gentar menghadapi penolakan serta tekanan dunia ini. Allah akan memelihara dan membela kita.
Pelayanan Hamba sejati
Menjadi hamba Allah berarti bersedia memberi diri secara total untuk diperbarui senantiasa oleh Allah, dan bersedia menghadapi tantangan. Kesediaan memberi diri total dan sedia menghadapi tantangan adalah kunci keabsahan pelayanan seorang hamba sbg "mulut" Allah. Hamba Allah tidak berhak menyuarakan suara lain, selain suara Allah sendiri. Bila tidak, ia bukan lagi hamba Allah sejati, tetapi hamba palsu. Hamba Sejati. Syair yang diungkapkan Yesaya ini mengingatkan kita kepada Yesus Kristus sebagai Hamba Sejati. Apakah rahasianya sehingga Dia dapat memberi semangat baru kepada yang letih lesu? Pertama, Dia memelihara hubungan dengan Bapa di sorga. Dia telah didisiplin untuk mengutamakan Allah dan mendengarkan firman Allah tiap pagi. Maka kata-kata yang diucapkan-Nya pada orang banyak bukanlah kata-kata-Nya sendiri, tetapi kata-kata dari lidah seorang murid. Kedua, Dia telah menerima semua proses pembentukan yang Allah ijinkan. Proses pembentukan itu berat, tetapi melaluinya Dia terbentuk tegar (6,7-9).Derita Hamba sejati. Hamba Allah yang sejati taat kepada firman dan yang tabah menanggung derita itu memiliki wewenang illahi. Dia kini memanggil orang yang merindukan kebebasan dan mendambakan kehidupan yang berbahagia. Hamba Allah itu kini memperhadapkan kita dengan tawaran: hidup atau mati, terang atau gelap, berkat atau kutuk? Sudahkan Anda masuk dan menikmati karya penebusan Yesus Kristus? Bukan sekadar percaya. Sekadar menjadi orang percaya adalah perkara mudah. Dibutuhkan kesediaan untuk dicemooh, dipukul, dilukai sebagai konsekuensi ketaatan kepada firman Tuhan. Dalam saat demikianlah hamba Tuhan belajar berteguh hati di dalam Tuhan. Rela menyerahkan diri dididik Tuhan, ditempa keteguhan imannya. Dan yakin bahwa Tuhan tak akan mempermalukan hamba-Nya.
Menjadi hamba Allah berarti bersedia memberi diri secara total untuk diperbarui senantiasa oleh Allah, dan bersedia menghadapi tantangan. Kesediaan memberi diri total dan sedia menghadapi tantangan adalah kunci keabsahan pelayanan seorang hamba sbg "mulut" Allah. Hamba Allah tidak berhak menyuarakan suara lain, selain suara Allah sendiri. Bila tidak, ia bukan lagi hamba Allah sejati, tetapi hamba palsu. Hamba Sejati. Syair yang diungkapkan Yesaya ini mengingatkan kita kepada Yesus Kristus sebagai Hamba Sejati. Apakah rahasianya sehingga Dia dapat memberi semangat baru kepada yang letih lesu? Pertama, Dia memelihara hubungan dengan Bapa di sorga. Dia telah didisiplin untuk mengutamakan Allah dan mendengarkan firman Allah tiap pagi. Maka kata-kata yang diucapkan-Nya pada orang banyak bukanlah kata-kata-Nya sendiri, tetapi kata-kata dari lidah seorang murid. Kedua, Dia telah menerima semua proses pembentukan yang Allah ijinkan. Proses pembentukan itu berat, tetapi melaluinya Dia terbentuk tegar (6,7-9).Derita Hamba sejati. Hamba Allah yang sejati taat kepada firman dan yang tabah menanggung derita itu memiliki wewenang illahi. Dia kini memanggil orang yang merindukan kebebasan dan mendambakan kehidupan yang berbahagia. Hamba Allah itu kini memperhadapkan kita dengan tawaran: hidup atau mati, terang atau gelap, berkat atau kutuk? Sudahkan Anda masuk dan menikmati karya penebusan Yesus Kristus? Bukan sekadar percaya. Sekadar menjadi orang percaya adalah perkara mudah. Dibutuhkan kesediaan untuk dicemooh, dipukul, dilukai sebagai konsekuensi ketaatan kepada firman Tuhan. Dalam saat demikianlah hamba Tuhan belajar berteguh hati di dalam Tuhan. Rela menyerahkan diri dididik Tuhan, ditempa keteguhan imannya. Dan yakin bahwa Tuhan tak akan mempermalukan hamba-Nya.
Flp 2:4-11
Bagian ini berupa sebuah madah yang menurut sementara ahli sudah
tersedia dan Paulus tinggal memungutnya. Masing2 bait madah ini
menonjolkan sebuah tahap tersendiri dalam misteri Kristus: kepraadaan ilahinya,
perendahanNya dalam inkarnasi; perendahanNya lebih jauh lagi dalam kematian;
pemuliaan sorgawiNya; pemujaanNya oleh dunia semesta; gelar Kristus historis, yg
adalah Allah dan manusia dalam persatuan pribadi yg oleh Paulus tidak pernah
dipisah-pisahkan, meskipun membedakan beberapa tahap dalam beradanya Kristus.
Teladan Kristus.
Setelah berbicara ttg kesatuan tubuh Kristus, Paulus menutup bagian ini dg mengacu kpd teladan Kristus.Teladan Kristuslah yg menjadi acuan utk kesatuan tsb. Teladan Kristus itu adalah pengosongan diri-Nya. Sebelum kita menelusuri nasihat Paulus, marilah kita bayangkan apa konsekuensi yang harus Kristus tanggung ketika Ia memanusia. Ia mengosongkan diri. Mengapa dmk? Karena dalam sepanjang hidup dan masa pelayanan-Nya selama tiga setengah tahun di bumi, Dia yang sekalipun adalah Allah yg sejati, tidak menganggap kesetaraan dg Allah itu sbg milik yg harus dipertahankan (ayat 6). Kristus menjadi sama dg manusia, bahkan dalam rupa seorang hamba. Dia sbg Allah yg tidak terbatas harus dilahirkan sbg seorang manusia yg sangat terbatas, bahkan menjadi bayi kecil lahir di kandang hina.Kita sulit mengerti pengosongan diri ini. Mungkin ilustrasi ini membantu. Ketika orang dewasa berusaha berkomunikasi dg anak kecil, ia harus 'mengosongkan diri', berbicara dalam bahasa mereka, menanggalkan segala 'kemuliaan dan kebesaran' diri sbg orang yang 'di atas'. Ini terbatas menggbkan pengosongan diri Kristus! Dialah Pencipta yg masuk ke dunia dan membatasi diri dg menjadi manusia ciptaan. Bahkan, bukan hanya mengosongkan diri, Ia melangkah lebih rendah menjadi hamba dan mati menanggung penderitaan dan aib tak terperi. Inilah cara Allah membawa manusia masuk dalam kepenuhan-Nya melalui penyangkalan dan pengorbanan-Nya agar org mendapatkan berkat dan anugerah Tuhan. Semangat dan prinsip sama berlaku pula bagi warga gereja. Kristus telah membayar harga yang termahal yang dapat dilakukan dengan menyerahkan nyawa-Nya sendiri di atas kayu salib menjadi tebusan bagi banyak jiwa.
Setelah berbicara ttg kesatuan tubuh Kristus, Paulus menutup bagian ini dg mengacu kpd teladan Kristus.Teladan Kristuslah yg menjadi acuan utk kesatuan tsb. Teladan Kristus itu adalah pengosongan diri-Nya. Sebelum kita menelusuri nasihat Paulus, marilah kita bayangkan apa konsekuensi yang harus Kristus tanggung ketika Ia memanusia. Ia mengosongkan diri. Mengapa dmk? Karena dalam sepanjang hidup dan masa pelayanan-Nya selama tiga setengah tahun di bumi, Dia yang sekalipun adalah Allah yg sejati, tidak menganggap kesetaraan dg Allah itu sbg milik yg harus dipertahankan (ayat 6). Kristus menjadi sama dg manusia, bahkan dalam rupa seorang hamba. Dia sbg Allah yg tidak terbatas harus dilahirkan sbg seorang manusia yg sangat terbatas, bahkan menjadi bayi kecil lahir di kandang hina.Kita sulit mengerti pengosongan diri ini. Mungkin ilustrasi ini membantu. Ketika orang dewasa berusaha berkomunikasi dg anak kecil, ia harus 'mengosongkan diri', berbicara dalam bahasa mereka, menanggalkan segala 'kemuliaan dan kebesaran' diri sbg orang yang 'di atas'. Ini terbatas menggbkan pengosongan diri Kristus! Dialah Pencipta yg masuk ke dunia dan membatasi diri dg menjadi manusia ciptaan. Bahkan, bukan hanya mengosongkan diri, Ia melangkah lebih rendah menjadi hamba dan mati menanggung penderitaan dan aib tak terperi. Inilah cara Allah membawa manusia masuk dalam kepenuhan-Nya melalui penyangkalan dan pengorbanan-Nya agar org mendapatkan berkat dan anugerah Tuhan. Semangat dan prinsip sama berlaku pula bagi warga gereja. Kristus telah membayar harga yang termahal yang dapat dilakukan dengan menyerahkan nyawa-Nya sendiri di atas kayu salib menjadi tebusan bagi banyak jiwa.
Mat 26:46
Nubuat Yesus ini merup
jawaban atas pertanyaan para muridNya,"Apakah tanda kedatanganMu dan tanda
kesudahan dunia?" Yesus memberikan kpd mereka:
2.
tanda-tanda khusus yg menunjukkan bahwa akhir zaman telah tiba,
yaitu masa kesengsaraan besar (Mat 24:15-28);
3.
tanda-tanda yg menakjubkan yang terjadi pada saat Ia datang dg
kemuliaan dan kuasa (Mat 24:29-31);
4. peringatan
kpd org kudus dalam masa kesengsaraan besar agar berjaga-jaga thdp tanda-tanda
yg menuju kepada kedatangan Kristus yang dinanti-nantikan segera setelah masa
kesengsaraan besar berakhir (Mat 24:32-35);
5. peringatan
kepada org percaya yg hidup sebelum masa kesengsaraan untuk siap sedia secara
rohani karena kedatangan Kristus untuk jemaat-Nya akan terjadi pada saat yg tak
diduga-duga (Mat 24:36-51;
25:1-30;
6.
suatu gambaran mengenai penghakiman bangsa2 setelah Ia
datang kembali ke bumi (Mat 25:31-46).
Perlu diperhatikan bahwa banyak rincian mengenai kedatangan kembali Kristus
tidak dijelaskan dlm pasal Mat 24:1-51.
Selanjutnya, sampai saat ini belum ada seorang pun yg mengartikan semua nubuat
mengenai akhir zaman dengan kepastian penuh. Dalam percakapan Yesus terdapat
unsur rahasia yang perlu kerendahan hati dan hati yang tertuju kepada Tuhan
Yesus sendiri. Kita dapat menantikan tambahan pengertian ttg penyataan ini pada
akhir zaman (bd. Dan 12:9).
Dua tipe pikiran pemimpin.
Dua tipe pengikut Yesus. Semakin dekat Tuhan, semakin sadar perlu
Dia, dan peka akan derita yang dijelang-Nya, semakin perempuan itu ingin
memberi terbaik bagi andalan jiwanya itu. Sebaliknya, semakin sadar beda motif
hati dan jelas melihat tujuan akhir hidup Yesus, semakin Yudas menjauhkan diri
dari-Nya, sampai menjual-Nya kepada para musuh-Nya. Perempuan itu mengorbankan
minyak narwastu senilai tiga ratus dinar (Mrk. 14:5),
Yudas menjual Yesus dengan tiga puluh keping perak atau sekitar seratus dua
puluh dinar.
Dari bacaan
diatas kami belajar:
1.
Kesederhanaan hamba dibutuhkan dalam mengikut Yesus,kepenuhan
dalam berserah dibutuhkan.
2.
Hamba Allah berarti bersedia memberi diri secara total untuk
diperbarui senantiasa oleh Allah, dan bersedia menghadapi tantangan. Kesediaan
memberi diri total dan sedia menghadapi tantangan adalah kunci sebagai
"mulut" Allah. Hamba Allah tidak berhak menyuarakan suara lain,
selain suara Allah sendiri. Bila tidak, ia bukan lagi hamba Allah sejati,
tetapi hamba palsu.
3.
Penyerahan sepenuhnya dalam rancangan Tuhan dalam ucapan dan
tindakan secara sadar harus diamalkan dalam hidup.
4.
Pengucapan hal yg bukan adalah sebuah dosa yg keji di mata Tuhan,
sehingga tugas Hamba adalah murni dari Tuhan.
5.
Kesetiaan, kekudusan, dan kemauan yang kuat dalam menjalankan
hidup sepenuhnya dalam Yesus harus dijalankan secara penuh dg kesadaran yg
penuh dari individu yang bersangkutan sehingga terpancar kekudusan Rancangan
Tuhan.
6.
Seluruh kehendak Tuhanlah yang menjadi fokus dalam semua kejadian
bila menjurus pada kesuksesan pribadi,ini akan melanggar kemurnian tugas ilahi
yg dari surga.
7.
Penyerahan hidup secara total menjadikan semua rancangan Tuhan
menjadi kenyataan.
8.
Manusia bisa merencanakan segala kejadian tapi Tuhanlah yg
menyelesaikan segala rancangan hidup manusia.
9.
Keinginan pribadi akan dikalahkan dg keinginan Yesus atas dunia
dan kepentingan orang banyak.
10. Keputusan
mengikuti Yesus harus bulat dalam hati sehingga tidak ada rasa penyangkalan
dalam melaksanakan tugas.
11. Kebulatan
tekad dalam hidup mengikuti Yesus sebagai hamba menjadikan kita selalu setia
dalam pelayanan.
Kemampuan dalam
melayani Tuhan scr sungguh membuat kita dipercaya dalam hal lain dalam dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar